• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 Juli 2014
Tribunnews.com

Kisah Tragis TKI Selundupan

Rabu, 8 Mei 2013 17:57 WIB
Kisah Tragis TKI Selundupan
TRIBUNJAMBI/EDI JANUAR
Bupati Kerinci H. Murasman mengunjungi TKI korban pemerkosaan, saat menjalani perawatan di RSU Mayjend HA Thalib Kerinci, Senin (6/5/2013) 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Edi Januar

TRIBUNNEWS.COM - Kasus yang menimpa TKI asal Kerinci yang dibunuh dan diperkosa saat akan pulang dari Malaysia menjadi gambaran betapa sulitnya TKI pulang lewat jalur penyelundup. Berikut beberapa kisahnya.

DI sebuah rumah, tepatnya di Desa Semerah, Kecamatan Sitinjau Laut, Kerinci, Senin (6/5/2013), sekelompok pemuda sedang asyik berkumpul, sembari bercerita tentang pengalaman mereka saat pulang dari Negeri Jiran Malaysia, jelang Lebaran Idul Fitri 2012 lalu.

Meskipun hanya bekerja sebagai TKI ilegal di Malaysia, pengalaman yang pernah mereka lalui cukup menarik. Saat kembali kekampung halaman, mereka harus menantang maut, karena kepulangan mereka melalui jalur selundupan, tanpa adanya dokumen resmi, baik dari Indonesia maupun dari Malaysia.
 
Saat itu untuk keluar dari negara Malaysia sangat sulit, meskipun sudah mengantongi Surat Perjalanan Laksana Pasport, sehingga banyak para TKI yang tertahan di pelabuhan, karena tidak mendapatkan izin pulang,” ujar Adi, yang berbagi pengalaman dengan rekan-rekannya.

Namun, karena besarnya keinginan hati agar bisa merayakan Lebaran di kampung halaman, bersama 50 orang rekannya yang lain, tetap nekat pulang meskipun harus melalui jalur selundupan. Padahal, sudah banyak rekan mereka yang tewas ditelan ganasnya lautan lepas.
 
Saat itu bukan besarnya biaya yang menjadi pertimbangan, namun bagaimana kami bisa sampai ke kampung halaman saat Lebaran tiba, tanpa peduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan. Bahkan, cerita tewasnya penumpang yang tenggelam dihantam ombak, sudah tidak diingat lagi” katanya.

Biaya yang harus dikeluarkan saat itu sebanyak 600 ringgit Malaysia, atau setara dengan Rp 1,5 juta. Jumlah tersebut memang tidak terlalu besar, karena kalau pulang lewat jalur resmi harus membayar 1.200 ringgit.

 
Jalur yang harus dilalui adalah dari Portklang Malaysia, menuju Bagan Siapi-api dengan menggunakan perahu boat, dan kemudian terus ke Dumai, dan langsung menuju Kerinci melewati Padang, Sumatera Barat,” kenangnya.

Namun, sebelum sampai di Bagan Siapi-api, terlebih dahulu harus mampir di sebuah pulau kosong. Dari Portklang sendiri, semua penumpang harus tiarap, agar tidak kelihatan oleh patroli. Beberapa kali perahu harus berhenti ditonggak bambu, karena terjangan ombak yang besar. Di sanalah cerita yang sangat menyakitkan bermula.

Berangkat dari Portklang harus saat malam hari, untuk menghindari adanya patroli laut Malaysia. Sekitar tiga jam perjalanan, perahu bot yang membawa para TKI mampir di sebuah pulau, sambil menunggu patroli laut Malaysia lengah, serta menunggu ombak tenang.

Awalnya saya mengira mampir di pulau tersebut hanya beberapa jam saja, namun ternyata tidak, kami terdampar dipulau itu selama tiga hari. Bahkan kabarnya ada TKI yang terdampar selama lima hari di pulau tersebut,” kata Adi.

Sesampainya di pulau, sebuah perahu yang biasanya digunakan untuk mengangkut sayur sudah kelihatan menunggu. Kapal yang lebarnya tiga meter dengan panjang sepuluh meter, harus ditumpangi oleh 50 orang penumpang.

Melihat perahu yang akan membawa kami menyeberangi lautan, sempat timbul keraguan karena kapasitas perahu dengan jumlah penumpang jelas tidak berimbang, diterjang ombak sedikit saja bisa tenggelam,” sebutnya.

Namun karena tidak adanya pilihan lain, akhirnya jalan itu tetap harus dilalui. Selama berada di pulau, banyak pengalaman pahit yang harus dijalani, karena tiga hari di pulau, hanya diberi makan satu kali saja. Hari berikutnya, hanya bertahan dengan makan mi rebus dan kopi, yang diantarkan oleh perahu nelayan.

Selama di pulau, tidak ada satu orang penumpangpun yang bisa mandi ataupun aktivitas lainnya. Yang dilakukan hanya duduk didalam perahu, sambil menunggu intruksi  berangkat dari petugas perahu, sementara rasa lapar terus menggerogoti perut yang kosong” ungkapnya.

Yang paling menyedihkan adalah dalam rombongan terdapat seorang bayi berusia dua bulan, yang harus ikut berjuang melawan ganasnya gelombang.

Di pulau tersebut, terdapat sebuah makam yang tanahnya masih kuning. Kabarnya makam tersebut adalah makam TKI yang meninggal dalam perjalanan,” katanya.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas