Bos Pengobatan Alternatif Sekeluarga Tewas Dibantai

Patar Ginting (50), bos pengobatan alternatif beserta istrinya, Handayani (45), dan putrinya, Aisyah (7) tewas dibunuh

Bos Pengobatan Alternatif Sekeluarga Tewas Dibantai
net

TRIBUNNEWS.COM, DELI SERDANG - Patar Ginting (50), bos pengobatan alternatif beserta istrinya, Handayani (45), dan putrinya, Aisyah (7) tewas dibunuh kawanan perampok di kediamannya, Jl Djamin Ginting, Dusun 2 Pondok Tengah, kecamatan Namorambe, Deliserdang, Minggu (12/5/2013) dini hari.

Almarhum Patar adalah pemilik Pengobatan Refleksi Medan Namurambe, yang kliniknya persis di samping rumahnya.

Pelaku yang diperkirakan lebih dari satu orang menggunakan dua mobil. Usai menghabisi korban sekeluarga, pelaku kabur membawa kotak infaq yang diperkirakan berisi Rp 5 jutaan dan sejumlah perhiasan milik korban. Kotak infaq tersebut berisi uang yang diberikan pasien-pasien Patar. Klinik pengobatan alternatif milik korban punya alamat di facebook.  

Permbunuhan disertai perkosaan ini tergolong sadis. Kondisi ketiga korban sangat mengenaskan, semuanya kondisi leher digorok. Jenazah Patar ditemukan terduduk di teras rumah dengan luka di bagian kepala dan leher digorok. Jasad sang anak yang masih duduk di kelas satu SD ditemukan tak bernyawa di ruang tamu rumah juga ditemukan dengan kondisi leher digorok.

Jenazah istri korban ditemukan dalam keadaan telanjang di kamar mandi dengan luka di leher. Diduga sebelum dibunuh, istri korban sempat diperkosa pelaku.

Pasti Beru Barus, kerabat dan tetangga korban, yang tinggal di belakang rumah Patar, sedih tidak bisa membantu saat istri Patar menjerit.  ''Maaf gak bisa kau kutolong," ujar Pasti meratap sedih saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu.

 Mengenakan sarung dan brukat merah pudar, sembari terisak, Pasti bercerita mendengar suara pintu terbanting dan suara jeritan selama dua kali dari rumah Patar, sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah itu tidak mendengar suara apa pun lagi.

"Aku dengar bunyi bruk trus, Handayani menjerit dua kali," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Mendengar suara tersebut, dia terbangun. Namun lampu rumahnya mati. Sembari bertanya-tanya, dia mencoba menghidupkan lampu. Dia melihat lampu di rumah Patar mati dan melihat bayangan manusia di pohon mangga, di belakang rumah korban.
"Kami dilemparinya. Kami mau lari ke samping rumah kayak ada orang. Kami lari ke arah jalan, kayak ada orang. Jadi kami sembunyi di semak-semak," ujar Pasti sembari terkenang akan peristiwa memilukan tersebut.

Perempuan bertubuh kurus yang berprofesi sebagai petani ini  mengatakan karena takut dia dan anaknya Peristiwa Ginting memutuskan untuk bersembunyi selama peristiwa mengenaskan tersebut terjadi.

Halaman
12
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help