• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribunnews.com

PDAM Mati Warga Gunakan Air Parit

Jumat, 24 Mei 2013 20:01 WIB
PDAM Mati Warga Gunakan Air Parit
Tribun Kaltim, Doan Pardede
PDAM Mati Warga Gunakan Air Parit

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Doan Pardede

TRIBUNNEWS.COM SAMARINDA, - Sudah 4 bulan lebih air PDAM Samarinda tidak mengalir di Blok L2, L3, L5, K8 dan K9 RT 34 Jl Pelita IV Sambutan. Untuk kebutuhan air minum, terpaksa sekitar 200-an warga membeli air tandon seharga Rp 70 ribu - Rp 80 ribu pebuahnya. Selain tandon, untuk keperluan sehari - hari warga juga terpaksa menggunakan air parit alam yang berada tak jauh dari permukiman. Mirisnya, bila air tandon susah didapat, maka kadang - kadang warga juga mengkonsumsi air parit alam tersebut. Tentunya, setelah diendapkan terlebih dahulu selama beberapa waktu.

Akibat pentingnya air parit ini bagi warga, tidak diperbolehkan berlama - lama menampung air apalagi untuk mandi dan mencuci. Dipinggir parit, warga hanya diperbolehkan mengisi jerigen - jerigen besar dan kecil untuk selanjutnya diangkut dengan sepeda motor.

"Kadang - kadang, kalau airnya sudah sangat sedikit kita bisa sampai berantem karena rebutan air," kata salah satu warga yang menampung air, Jumat (24/5/2013). Rencananya, Jumat (24/5/2013) kemarin ratusan warga berencana akan mendatangi kantor PDAM Sambutan. Namun  karena sesuatu hal, niat tersebut diurungkan dan memberikan waktu bagi PDAM untuk memenuhi janji - janijnya.

Salah satu tokoh masyarakat setempat M Buke mengatakan, bila dirata - ratakan warga sudah 4 bulan bahkan ada yang sudah 8 bulan tidak kebagian air PDAM.

"Kita demonya hanya ke PDAM disini saja. Sampai sekarang tidak ada ditanggapi.  Tidak ada tindak lanjut dari PDAM, dimana janjinya itu. Sekarang kalau harus beli tandon 3 kali 1 bulan sudah habis uang belanja," katanya.

Ia memaparkan, mayoritas warga adalah eks relokasi Sungai Karang Mumus (SKM) yang sudah memenuhi permintaan Walikota Samarinda dengan janji akan diberikan perumahan layak huni.

"Sampai sekarang air kendala kita. Janji Walikota dulu waktu relokasi bagaimana!. Kita bukan beli, kita bukan sewa disini, kita punya hak berdasarkan janji Walikota. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Samarinda," katanya.

Warga juga menuding bahwa seakan - akan PDAM mendiskriminasi warga. Dimana perumahan Handil Kopi yang  juga dapat aliran yang sama dari Boster PDAM Sambutan air mengalir lancar.

"Handil Kopi jalan di atas nggak jalan. Pelita IV dibawah jalan di atas tidak jalan. Jadi timbul kecemburuan. Lebih baik tidak jalan sama sekali," katanya.

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Kaltim
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas