Tragedi Pesawat Merpati di Bandara El Tari Kupang

Belasan penumpang pesawat Merpati MA60 dengan nomor penerbangan PK-MZO yang mengalami kecelakaan

Tragedi Pesawat Merpati di Bandara El Tari Kupang
AFP
Para pejabat TNI AU berdiri di samping MA-60 Merpati Nusantara Airlines pesawat setelah mendarat di bandara El Tari Kupang Senin (10/6/2013) . Pesawat buatan Cina MA-60 yang dioperasikan Merpati Airlines mengalami kecelakaan saat mendarat di landasan pacu bandara El Kupang, Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Maksi Marho

Evarista Telepon Sambil Menangis

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG--Belasan penumpang pesawat Merpati MA60 dengan nomor penerbangan PK-MZO yang mengalami kecelakaan ketika mendarat di Bandara El Tari Kupang, Senin (10/6/2013) sekitar pukul 10.00 wita, tampak duduk-duduk di ruang VIP Lanud El Tari Kupang ketika sejumlah wartawan datang meliput ke tempat itu. Wajah mereka ada yang murung, ada yang sedang telepon sambil meneteskan air mata, ada yang sedang bercerita bahkan ada yang sudah bisa tersenyum.

Para penumpang pesawat merpati ini pantas trauma dan shok, karena kejadian kecelakaan pesawat Merpati saat mendarat di Bandara El Tari Kupang itu memang hampir saja merenggut nyawa mereka.

Beruntung kuasa Tuhan masih bekerja sehingga mereka masih bisa diselamatkan dari peristiwa tersebut.
Evarista Selvia Ningrum (36) sambil menggendong anaknya yang masih bayi terlihat meneteskan air mata ketika berbicara pertelepon dengan sanak keluarganya. Perempuan ini pantas bersediah, karena saat peristiwa kecelakaan pesawat terjadi, ia berada di dalam pesawat Merpati bersama putranya bernama Caesar yang masih berusia 20 bulan.

Ketika ditanya wartawan usai menelpon keluarganya di Bajawa- Kabupaten Ngada, Evarista mengatakan, ia dan bayinya datang ke Kupang karena suatu urusan, sementara suaminya ada di Bajawa. Di dalam pesawat ia menempati kursi nomor 2D di barisan bagian depan. Sewaktu pesawat terbang dari Bandara Turalelo-Soa, tidak terjadi apa-apa dan penerbangan pesawat berjalan mulus.

Namun ketika memasuki wilayah Kota Kupang, saat masih berada di udara mereka sebagai penumpang sempat merasa ada goncangan pada badan pesawat. Apalagi ketika mendekati bandara atau hendak mendarat di Bandara El Tari Kupang dan secara tiba-tiba kemudian terjadi semacam benturan. Ia kemudian melihat ada penumpang yang seperti melompat dari tempat duduk masing-masing. Ternyata pesawat mengalami kecelakaan.

"Saya posisi di kursi bagian depan. Setelah semua penumpang berusaha keluar lewat pintu samping baru kemudian saya keluar sambil menggendong anak saya. Saya terus berteriak darah Yesus, darah Yesus. Saya percaya Tuhan itu ada dan pasti menolong saya," cerita Evarista.

Sayangnya ketika sedang bercerita, Evarista harus segera bergabung dengan para penumpang lainnya karena harus segera naik ke bus TNI AU untuk diantar mengambil barang bawaan mereka yang sudah ditumpukan di bandara. Wawancara wartawan pun terpotong. Selama berada di ruang VIP Lanud El Tari Kupang, Evarista terus menggendong dan memeluk bayinya itu.

Trauma akan peristiwa kecelakaan pesawat ini juga terjadi pada penumpang yakni Pendeta Yohanes Gara dan ibu Zumalinda. Pendeta Yohanes Gara mengatakan, ia merasakan pesawat Merpati mulai goyang saat hendak landing di Bandara El Tari Kupang. "Saat ini saya merasa goyangan pesawat agak kasar. Saya sempat bicara pada penumpang yang duduk di sebelah saya, kok goyang sekali pesawatnya. Tidak lama langsung terjadi seperti dihantam dengan benda lain dan langsung ada perintah supaya buka pintu darurat. Cepat-cepat penumpang keluar lewat pintu darurat," kata Yohanes.

Halaman
12
Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved