• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 April 2014
Tribunnews.com

Tali Jemuran Selamatkan Khairul Dari Terjangan Banjir

Jumat, 14 Juni 2013 10:07 WIB
Tali Jemuran Selamatkan Khairul Dari Terjangan Banjir
BANJARMASIN POST/HANANI
Bak tersapu tsunami, begitulah kondisi sejumlah desa di Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan pascabanjir bandang

Laporan Wartawan Banjarmasin Post, Hanani

TRIBUNNEWS.COM, BARABAI - Bak tersapu tsunami, begitulah kondisi sejumlah desa di Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan pascabanjir bandang, Kamis (13/6/2013). Pohon bertumbangan, jalan penuh lumpur, bangunan berdinding papan dan kayu porak poranda, serta hilir mudik warga mencari barang-barang miliknya.

Pada Rabu (12/6/2013) malam hingga Kamis dini hari, hampir semua desa di lereng pegunungan Meratus tersapu air bah, dengan ketinggian satu sampai dua meter. Desa itu antara lain Bulayak, Tanjung, Alat, Alat Seberang, Papagaran, Datarajab, Arangani, Mangkiling dan Pantai Parupuk.

Pantauan Banjarmasin Post (Tribunnews.com  Network), kondisi terparah terjadi di Desa Alat Seberang.  Di desa tersebut sebanyak 33 rumah berdinding papan dan kayu, hanyut. Ada yang hanya menyisakan lantai beton, ada juga yang hilang tak berbekas.

Korban tewas akibat terjangan banjir adalah Acung (60) yang yang tinggal di dekat Balai Adat Papagaran. Dia diduga tidak sempat menyelamatkan diri.

"Korban ditemukan di tepi sungai Desa  Alat, terseret arus sejauh 10 kilometer. Dia terjepit kayu di pohon," kata Kabag  Operasional Polres HST, AKP Yakup.

Selain korban tewas, ada dua warga yang luka-luka. Yakni, Khairul Ramadhan (50) yang mengalami luka di kaki akibat terkena pecahan kaca dan Badaruddin (74), yang mengalami luka di bagian telinga, kaki serta lebam-lebam di sekujur tubuhnya akibat terbentur kayu.

Badaruddin selamat secara dramatis. Kakek yang tinggal bersama istrinya itu mengaku sempat putus asa saat menyelamatkan diri. "Hampir setengah jam saya berpegang dan memeluk erat pohon di belakang rumah. Saya terus berteriak sekuat-kuatnya untuk minta tolong. Tapi tak ada yang mendengar, karena semua sibuk menyelamatkan diri," katanya kepada Banjarmasin Post. Selama bertahan di pohon itu, Badaruddin mengaku badannya gemetar karena kedinginan.

Akhirnya, setelah air berangsur surut, dia ditemukan warga yang segera mengendongnya ke rumah salah seorang warga yang tetap berdiri meski diterjang banjir. Di sana dia langsung mendapat pertolongan pertama dari tim SAR. Sementara sang istri, Astamiah (63) terlebih dahulu diselamatkan tetangga.

Pengalaman serupa dialami Khairul. Namun yang menyelamatkan jiwanya adalah tali jemuran di rumahnya. "Dengan tali itu, saya terus berpegangan, akhirnya sampai ke pohon kelapa, lalu saya memanjat dan bertahan sampai air surut,"ujar dia.

Menurut warga, tanda-tanda air bah sudah ada sekitar pukul 18.30 Wita, selepas magrib. Saat itu arus air tidak deras. Ketinggiannya hanya sekitar 50 sentimeter. Namun, warga yakin banjir besar segera datang, setelah yang terjadi pada 60 tahun silam. Mereka segera mengungsi ke kawasan dataran tinggi atau ke tingkat dan atap rumah. Terbukti, sekitar tiga jam kemudian, banjir besar datang.

"Tiba-tiba air mengalir sangat deras disertai sampah kayu dan batang bambu. Saya dan anak-anak langsung naik ke atap rumah. Suasananya sangat panik," kata seorang warga, Sarah.

Meski rumah Sarah tidak hancur, namun isinya hanyut dibawa air.

Berdasar data tim SAR, sebanyak 30 dari 50 rumah di Desa Alat Seberang, hanyut. Sebagian lain tersisa  bagian dapur dan atap. Tragisnya, meskipun banjir menyurut, tim SAR tetap kesulitan mengevakuasi warga karena jembatan gantung yang merupakan satu-satunya akses menuju desa tersebut rusak parah.

Editor: Anita K Wardhani
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1905682 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas