• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 21 September 2014
Tribunnews.com

Asosiasi Siapkan Pengacara dari Jakarta

Rabu, 31 Juli 2013 20:28 WIB

TRIBUNNEWS .COM, DUMAI - Asosiasi Pelabuhan Rakyat (Pelra) Kota Dumai mengancam akan menuntut Kantor Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Sebab institusi tersebut dinilai melakukan penangkapan unprosedural terhadap kapal pembawa rotan beberapa waktu lalu.

Ketua Asosiasi Pelra Dumai, TM Zalek, Senin (29/7/2013) meminta Ditjen Bea Cukai dan Hubla bertanggungjawab. Dua institusi diminta untuk menindaklanjuti keluhan pengusaha pemilik rotan yang ditarik paksa petugas BC saat kapal tengah bersandar di dermaga di salah satu Pelra di Kecamatan Sungai Sembilan.

"Kita minta ketegasan dari dua institusi ini terhadap tindakan sepihak yang dilakukan dengan menarik paksa KLM Berkat Sejati GT 147 bermuatan 200 ton dan menyegel barang," katanya.

Berkaitan dengan persoalan ini, pemilik KLM Berkat Sejati telah menunjuk kuasa hukum dari Jakarta. Penunjukkan kuasa hukum tersebut adalah upaya untuk menempuh jalur hukum. Saat ini diakuinya pihak kuasa hukum telah mempersiapkan pendapat hukum yang ditujukan ke kantor BC Tanjung Balai Karimun.

Pemilik KLM Berkat Sejati melalui kuasa hukumnya A J Harris Marbun dan Partners pun menilai, dalam melakukan penangkapan, penyitaan barang muatan, memindahkan barang kapal ke kapal-kapal lain, memindahkan kapal dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, BC Tanjung Balai Karimun tidak sesuai prosedur yang diamanahkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

"Dalam melakukan tindakan, terksan arogansi kesewenang-wenangan dalam melakukan penangkapan atau penahanan KLM Berkat Sejati tanpa didasari oleh surat apapun," tulis A J Harris Marbun dalam surat yang ditujukannya kepada Kantor BC Tanjung Balai Karimun.

Seperti yang pernah diberitakan, pada April 2013 lalu KLM Berkat Sejati memuat ratusan ribu batang rotan yang direncanakan dibawa ke Kabupaten Langsa, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Nakhoda Kapal, Ami Amri kepada wartawan saat itu mengatakan, saat petugas mendatangi kapal yang tengah bersandar dan berkegiatan memuat barang, tiba-tiba petugas berseragam custom lengkap dengan senjata langsung memotong tali kapal dengan sangkur dan menarik ke tengah laut lepas.

Penarikan kapal ini dilakukan aparat BC dengan cepat, tanpa memberikan penjelasan ataupun dokumen penangkapan kepada sejumlah anak buah kapal (ABK) yang berada di atas kapal. Saat sejumlah wartawan mendatangi kapal  yang lego jangkar di tengah laut tersebut, tampak aktivitas buruh bongkar muat, sedang melakukan pemindahan muatan rotan ke beberapa kapal lainnya dengan pengawasan aparat bersenjata bea cukai Tanjung Balai Karimun.

Pemindahan muatan rotan ke kapal lain ini, juga dipantau sejumlah petugas BC Tanjung Balai Karimun, di dermaga terdekat dengan menggunakan 2 unit kapal patroli (KP) dan 1 unit kapal karet cepat.

Ami mengakui, penangkapan KLM Berkat Sejati bermuatan 101.220 batang rotan dengan berat 200 ton ini terjadi disaat nakhoda menunggu dokumen berlayar untuk diberangkatkan menuju Langsa, Provinsi Aceh dari KSOP Dumai.

Dia berpendapat, penangkapan tersebut non prosedural, karena selain tidak memberikan penjelasan perihal penangkapan kepada ABK yang bekerja, kapal juga saat itu tengah berada dalam posisi bersandar di pelabuhan.

"Saat kapal ditarik petugas, saya tidak berada di lokasi pelabuhan, namun kapal masih sandar dan menunggu surat persetujuan berlayar diterbitkan Syahbandar. Informasi kru kapal yang menyaksikan  langsung kejadian, kapal diambil secara paksa oleh petugas dengan memotong tali pakai sangkur tanpa memberitahukan sepatah kata alasan penangkapan," katanya.
Penulis: iqbal

Editor: Budi Prasetyo
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
2104531 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas