• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 April 2014
Tribunnews.com

Harga Kedelai Melonjak, Pengusaha Tahu di Ungaran Naikkan Harga Tahu

Kamis, 22 Agustus 2013 16:52 WIB
Harga Kedelai Melonjak, Pengusaha Tahu di Ungaran Naikkan Harga Tahu
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Pekerja mengolah kedelai yang akan diproses untuk pembuatan tempe di pabrik pembuatan tempe di Jakarta Pusat, Kamis (31/1/2013). Pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa menyatakan akan mengendalikan harga kedelai di kisaran Rp 7.000 per kg untuk menjaga harga kedelai lokal. TRIBUNNEWS/HERUDIN

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNNEWS.COM, UNGARAN - Harga kedelai melonjak Rp 1.200 per kilogram, dari harga Rp 7.300 per kilogram menjadi Rp 8.500 per kilogram. Hal ini membuat pengusaha tahu menaikkan harga tahu.

Pengusaha tahu asal Kalirejo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Nurul (40) mengatakan dirinya terpaksa menaikkan harga tahu ketimbang mengurangi ukuran tahu.

"Harga naik Rp 1.000 dari Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 per 10 tahu. Saya tidak mungkin memperkecil ukuran tahu. Mau jadi seberapa kalau diperkecil, padahal ukurannya sudah kecil," ujarnya.

Tidak hanya tahu putih dan cokelat yang naik, lanjut Nurul, harga tahu sayur juga meningkat dari Rp 15 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu per kilogram.

"Naiknya hampir seminggu ini. Bahan produksi sudah naik, secara tidak langsung harga produk jadi naik. Saya minta pemerintah bisa mengendalikan harga," ujar Nurul yang juga berjualan di Pasar Bandarjo, Ungaran.

Nurul mengatakan saat ini dirinya lebih memilih langsung menjual tahu kepada pedagang. "Kalau ada pesenan, ya langsung kirim. Ngga mau kena harga tinggi," ujarnya.

Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu (Puskopti) Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro mengatakan kenaikan harga bukan akibat turunnya nilai kurs mata uang rupiah terhadap dollar Amerika.

"Turunnya kurs mata uang bukan sebagai penyebabnya, tapi ini akibat permainan importir kedelai. Selama ini tataniaga kedelai tidak ditangani pemerintah sehingga tidak ada yang menjaga stabilitas harga kedelai," ujarnya.

Dampak kenaikan harga, kata Sutrisno, bisa membuat produsen tahu tempe gulung tikar. "Saat ini anggota kami sebanyak 9.800 anggota. Diperkirakan sekitar 40 persen produsen yang kapasitas produksinya di bawah 50 kilogram bisa gulung tikar kalau harga kedelai tetap tinggi," ujarnya.

Sutrisno mengatakan untuk mengatasi kerugian sejumlah produsen sudah mengurangi jumlah pekerjanya. "Biasanya bisa sampai 15 pekerja sekarang cuma pakai tiga pekerja," ujarnya.

Sutrisno menginginkan pemerintah melalui Bulog menjadi importir utama kedelai. "Sehingga pemerintah bisa mengatur harga kedelai ketika harga naik.Saat ini peran tersebut belum disetujui Dinas Perdagangan," ujarnya.

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Jateng
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
2189861 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas