Tamu tak Suka Pakai Kondom Risiko Pekerjaan 'Ayam Kampus'

Ada korelasi antara aktivitas pekerja seks dan jumlah pengidap HIV atau ODHA di Kota Kupang, NTT, yang persentasenya terus menanjak.

Tamu tak Suka Pakai Kondom Risiko Pekerjaan 'Ayam Kampus'
NET
ILUSTRASI

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG - Ada korelasi antara aktivitas pekerja seks dan jumlah pengidap HIV atau orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Kupang, NTT, yang persentasenya terus menanjak.

Data yang diperoleh Pos Kupang (Tribun Network) dari Kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPAD) Kota Kupang menggambarkan, morbiditas jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Kota Kupang sangat bervarian menurut profesi atau pekerjaan.

Dari total jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota Kupang, hingga 2013 ada 489 penderita HIV/AIDS, lima persen di antaranya adalah mahasiswa/mahasiswi.

Meskipun persentasenya kecil, keterlibatan oknum mahasiswi dalam praktik prostitusi di Kupang dengan menjadi 'ayam kampus', perlu dicermati karena latar belakang ekonomi.

Demi Biaya Studi

Ike (21), nama samaran, oknum mahasiswi semester V sebuah perguruan tinggi di Kota Kupang; dan Lisa (22), juga nama samaran), mahasiswi jurusan ilmu sosial pada sebuah perguruan tinggi di Kota Kupang, ketika diwawancari Pos Kupang, Jumat (23/8/2013), mengaku sebagai 'ayam kampus'.

"Ya, mau bagaimana lagi. Kami berdua terpaksa melakukan 'gituan' untuk membantu membiayai studi di perguruan tinggi," tutur Ike, yang tinggal di sebuah rumah kos di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

"Saya sudah dua tahun kuliah di Kupang. Beberapa teman oknum mahasiswi saya juga bisa 'dipakai'  melayani tamu," ungkap Ike.

Gadis berkulit kuning langsat, secara gamblang mengaku mengenakan tarif hingga Rp 1 juta untuk sekali kencan.

"Tapi kalau diajak bermalam, biasanya tamu memberikan uang hingga Rp 2 juta. Biasanya, kami booking hotel bintang di Kota Kupang dengan membayar tarif hotel di atas Rp 500 ribu per malam," papar Ike.

Ike mengaku tidak sembarangan menerima pesanan tamu. Ia hanya mau menerima tamu 'berkelas'.

Sementara Lisa, mahasiswi semester VII, mengaku jika melayani tamu (short time), biasanya  menetapkan bayaran Rp 500 ribu.  

"Kalau bermalam di hotel biasanya tamu memberikan uang Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Jika pelayanan  memuaskan dengan memberikan layanan plus, maka tamu biasanya memberikan lagi tambahan tip," aku Lisa dan Ike.

Ike dan Lisa mengaku umumnya tamu yang mereka layani tidak suka menggunakan kondom.

"Ini risiko pekerjaan. Kami tidak bisa menolak ketika tamu tak mau pakai kondom karena mereka bayar cukup mahal. Tapi, kami minum pil anti hamil," urai kedua oknum mahasiswi. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help