Selasa, 3 Maret 2015
Tribunnews.com

Harga Sapi Bakalan Masih Mahal

Selasa, 17 Desember 2013 00:37 WIB

Harga Sapi Bakalan Masih Mahal
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Pekerja memberikan makanan kepada sapi impor Australia di salah satu peternakan di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (16/9/2013). 

TRIBUNNEWS.COM, CIAMIS - Para peternak penggemukan sapi masih enggan mengisi kandang sapi mereka menyusul masih mahalnya sapi bakalan dalam enam bulan terakhir ini.

Sapi bakalan adalah sapi usia setahun yang khusus diternakan untuk penggemukan. Harga sapi bakalan ini sampai minggu ketiga Desember berkisar Rp 9 juta sampai Rp 11 juta untuk ukuran sedang.

"Saya biasanya setiap musim menggemukan 50 ekor sapi bakalan. Tapi setelah harga sapi bakalan naik, sekarang hanya melihara 20 ekor sapi," ujar H Wasdi, peternak penggemukan sapi di Desa Margaharja Kecamatan Sukadana Ciamis, kepada Tribun, Senin (16/12/2013).

Sejak terjadinya krisis daging sapi, tak hanya berdampak pada membumbungnya harga daging sapi di pasar konsumen, tapi juga membuat naik harga sapi hidup. "Sejak lebaran lalu berlanjut ke Iduladha pada Oktober, sampai sekarang harga sapi hidup masih kisaran Rp 38.000 sampai Rp 40.000 per kilo. Masih tetap mahal dan tidak kunjung turun," katanya.

Menurut Wasdi, seekor sapi bakalan ukuran sedang berbobot 200 kg sampai 225 kg, dengan potensi daging 75 kg sampai 100 kg (70 persen karkas), harganya berkisar Rp 9 juta sampai Rp 11 juta. Setelah setahun digemukan, dengan tata cara budidaya yang normal, akan menghasilkan sapi potong siap panen dengan bobot 250 kg sampai 300 kg.
"Waktu panen setelah setahun digemukan harganya mencapai Rp 15 juta sampai Rp 16 juta," ujar H Wasdi.

Meski harga jual cukup menggiur dan banyaknya permintaan sapi untuk disembelih guna memenuhi permintaan daging sapi lokal, namun tidak membuat peternak penggemukan tergiur untuk jor-joran mengisi kandang mereka.

"Peternak masih enggan mengisi kandang. Alasan utamanya, karena harga sapi bakalannya masih mahal. Peternak juga khawatir kalau tiba-tiba pemerintah memasukan sapi impor dari Australia dengan harga lebih murah. Ketika sapi impor yang jauh lebih murah masuk, tentu peternak yang tengah memelihara sapi lokal rugi besar," jelasnya.

Halaman12
Editor: sanusi
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas