Rabu, 1 Juli 2015
Tribunnews.com

Sungai Barito Tercemar Limbah Batubara, Air Minum Pun Berasa Getah

Sabtu, 1 Februari 2014 14:02 WIB

Sungai Barito Tercemar Limbah Batubara, Air Minum Pun Berasa Getah
net

TRIBUNNEWS.COM - Nurul duduk di teras rumahnya, di Desa Tanipah, Aluh Aluh, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, sambari mengelus-elus perutnya yang membesar karena kandungannya sudah mencapai usia sembilan bulan.

Beberapa kali, dia menenggak air dalam kemasan plastik untuk mengusir haus. Nurul mengaku tidak berani minum air yang berasal dari sungai. Takut berpengaruh pada bayi di kandungannya. "Air sungainya keruh sekali," ucapnya kepada Banjarmasin Post (Tribunnews.com Network), kemarin.

Terjadinya pencemaran limbah batubara terhadap perairan di kawasan muara Barito tidak hanya mempengaruhi hasil tangkapan nelayan dari desa tersebut. Imbas lain adalah terganggunya pasokan air bersih untuk 1.677 orang yang tinggal di sana.

Berdasar pantauan, mereka tidak lagi secara langsung menggunakan air sungai, tetapi diendapkan dulu selama 4-5 hari di tandon.

"Endapannya berupa lumpur pekat. Kami juga terpaksa menggunakan obat penjernih. Bila langsung dimasak lalu diminum, rasanya seperti bergetah di tenggorokan. Tidak enak," ujar Ketua RT 3, Samadi.

Menurut dia, warga tetap mengandalkan air sungai meski kondisinya sudah tidak sehat karena air leding belum mengalir, meski pipanya sudah terpasang. Bagi yang memiliki uang, terkadang membeli air bersih. Satu rumah biasanya memerlukan 6-10 jeriken air. Satu jeriken  berisi 25 liter air. Harga satu jeriken Rp 2.500. "Air di jeriken itu diambil dari kecamatan Aluh Aluh lalu dijual menggunakan kelotok," tegasnya.

Saat dihubungi Kepala BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah) Kalsel Ikhlas mengakui Sungai Barito sudah tercemar. Bahkan tingkat pencemarannya sudah melebihi amang batas minimal.

Halaman12
Editor: Anita K Wardhani
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas