• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Sungai Barito Tercemar Limbah Batubara, Air Minum Pun Berasa Getah

Sabtu, 1 Februari 2014 14:02 WIB
Sungai Barito Tercemar Limbah Batubara, Air Minum Pun Berasa Getah
net

TRIBUNNEWS.COM - Nurul duduk di teras rumahnya, di Desa Tanipah, Aluh Aluh, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, sambari mengelus-elus perutnya yang membesar karena kandungannya sudah mencapai usia sembilan bulan.

Beberapa kali, dia menenggak air dalam kemasan plastik untuk mengusir haus. Nurul mengaku tidak berani minum air yang berasal dari sungai. Takut berpengaruh pada bayi di kandungannya. "Air sungainya keruh sekali," ucapnya kepada Banjarmasin Post (Tribunnews.com Network), kemarin.

Terjadinya pencemaran limbah batubara terhadap perairan di kawasan muara Barito tidak hanya mempengaruhi hasil tangkapan nelayan dari desa tersebut. Imbas lain adalah terganggunya pasokan air bersih untuk 1.677 orang yang tinggal di sana.

Berdasar pantauan, mereka tidak lagi secara langsung menggunakan air sungai, tetapi diendapkan dulu selama 4-5 hari di tandon.

"Endapannya berupa lumpur pekat. Kami juga terpaksa menggunakan obat penjernih. Bila langsung dimasak lalu diminum, rasanya seperti bergetah di tenggorokan. Tidak enak," ujar Ketua RT 3, Samadi.

Menurut dia, warga tetap mengandalkan air sungai meski kondisinya sudah tidak sehat karena air leding belum mengalir, meski pipanya sudah terpasang. Bagi yang memiliki uang, terkadang membeli air bersih. Satu rumah biasanya memerlukan 6-10 jeriken air. Satu jeriken  berisi 25 liter air. Harga satu jeriken Rp 2.500. "Air di jeriken itu diambil dari kecamatan Aluh Aluh lalu dijual menggunakan kelotok," tegasnya.

Saat dihubungi Kepala BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah) Kalsel Ikhlas mengakui Sungai Barito sudah tercemar. Bahkan tingkat pencemarannya sudah melebihi amang batas minimal.

Karena itu, dia telah meminta kepala daerah dan instansi teknis di daerah sepanjang Sungai Barito, berupaya menurunkan beban pencemaran di Sungai Barito.
Melalui cara itu diharapkan upaya pengelolaan Sungai Barito agar kualitas airnya dapat diperbaiki, bisa berlangsung optimal. "Mungkin (pencemaran itu akibat) limbah dari batubara. Ya, itulah faktanya," tegas Ikhlas.

Berdasar pantauan koran ini di muara Barito, terdapat banyak limbah di pertemuan arus sungai dan laut. Limbah yang diduga ceceran batubara itu membentuk uih berwarna kuning keemasan.
Menurut para nelayan, tidak hanya kapal milik perusahaan dalam negeri, tiap harinya paling sedikit 10 kapal asing -terutama berbendera Cina, India, Singapura dan Jepang - yang menjatuhkan limbah batubara dan limbah rumah tangga dalam kapal.

"Aktivitas kapal asing di muara tidak pernah sepi. Paling sedikit 10 kapal yang melakukan pemuatan batubara dari tongkang ke kapal. Kalau lagi ramai bisa sampai 50-an kapal," ujar seorang nelayan, Fitri.

Direktur Eksekutif Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Kalsel Dwitho Frasetyandi mengatakan pencemaran yang terjadi di muara Barito adalah akumulasi limbah seperti sampah rumah tangga, sampah industri dan hasil eksploitasi batubara.

"Untuk kebijakan sebenarnya sudah diwacanakan adanya pengelolaan DAS (daerah aliran sungai) Kalsel dan Kalteng. Namun, sejauh ini saya belum tahu apa saja yang akan dilakukan terkait kebijakan itu," katanya.

Sementara anggota DPRD Kalsel, Ibnu Sina mengatakan, terkait kasus pencemaran di Sungai Barito, pada dua tahun lalu, BLHD Kalsel pernah meneliti dan menemukan kandungan logam berat merkuri di atas ambang batas.

"Ini cukup mengkhawatirkan karena Sungai Barito itu urat nadi kehidupan sungai masyarakat. Belum lagi konsumsi ikan dari perairan ini yang cukup tinggi tentu akan membahayakan. Harus ada penertiban untuk mencegah agar tidak bertambah parah," ucap dia.(kur)

Editor: Anita K Wardhani
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
2868462 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas