• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 18 September 2014
Tribunnews.com

Lokasi Penambangan Batu Giok Aceh Akhirnya Ditutup

Senin, 17 Maret 2014 09:06 WIB
Lokasi Penambangan Batu Giok Aceh Akhirnya Ditutup
Ilustrasi penambangan 

TRIBUNNEWS.COM, SUKA MAKMUE - Pemerintah Kabupaten Nagan Raya sejak Minggu (16/3/2014) resmi menutup lokasi penambangan batu giok Aceh di kawasan hutan lindung pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong. Pasalnya aktivitas penambangan liar dan ilegal ini telah merusak lingkungan dan ekosistem di kawasan ini.

"Untuk sementara lokasi penambangan batu Giok Aceh yang disebut-sebut semi permata ini kita tutup, tak boleh lagi ada aktivitas apa pun di lokasi ini," kata Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini didampingi Kabag Humas Asda Kesuma kepada Serambi, Minggu (16/3/2013) di Suka Makmue.

Dikatakannya, Pemkab Nagan Raya akan melakukan kajian terkait penambangan batu alam di kawasan hutan lindung ini serta mengambil sejumlah langkah untuk menyelamatkan hutan lindung di pegunungan Singgah Mata. Apalagi aktivitas penambangan yang dilakukan warga kini semakin marak.

Bupati mengaku meski sudah diturunkan tim khusus ke lokasi guna melakukan pengecekan terhadap penambangan tersebut, ia belum menerima laporan terkait perkembangan terbaru di lokasi penambangan yang disebut-sebut menggunakan alat berat dalam mengeruk tanah di kawasan hutan lindung tersebut.

Kalau pun nantinya lokasi penambangan batu alam ini diperbolehkan lagi oleh Pemkab Nagan Raya, maka dipastikan semua penambang harus memiliki izin. Namun hal ini masih harus dilakukan pengkajian secara mendalam sehingga diharapkan nantinya tak ada masalah apa pun, karena kawasan tersebut merupakan areal hutan lindung, kata pria yang akrab disapa Ampon Bang ini.

Seperti diberitakan, perburuan batu giok Aceh atau batu hijau di kawasan pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya sejak beberapa bulan terakhir dilaporkan semakin marak. Dampak pengerukan tanah yang dilakukan pemburu batu yang disebut-sebut semi permata ini telah menyebabkan ratusan hektare lahan hutan lindung telah rusak akibat galian tanah yang dilakukan pemburu batu permata tersebut menggunakan alat berat.

"Maraknya aktivitas pemburuan batu giok Aceh atau batu hijau di pegunungan Singgah Mata ini akibat nilai jualnya yang sangat tinggi, karena batu alam ini disebut-sebut jenis semi batu permata," kata Samsul Kamal ST, Kepala Distamben Nagan Raya menjawab Serambi, Jumat (14/3/2014) di Suka Makmue.(edi)

Editor: Dewi Agustina
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
3051372 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas