Para Mahasiswa Ini Pertahankan Musik Minang dengan Gayanya Sendiri

Satu hal yang unik, mereka memadukan alat musik pukul asal Brasil, Jimbe, dan alat musik pukul asal Turki, Darabuka.

Para Mahasiswa Ini Pertahankan Musik Minang dengan Gayanya Sendiri
Tribunnews/Deodatus Pradipto
Macuru Art Community sedang mentas di area taman Jam Gadang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat, Sabtu (10/5/2014). Kelompok mahasiswa kesenian ini menggabungkan warna musik Minang dengan alat musik dari luar negeri. 

TRIBUNNEWS.COM, BUKIT TINGGI – Kata siapa anak muda Indonesia masa kini telah melupakan kebudayaan lokal? Buktinya ada sekelompok mahasiswa yang berusaha mempertahankan musik khas Minangkabau dengan gaya mereka sendiri.

Adalah Macuru Art Community, sekelompok mahasiswa Institut Seni Indonesia Padang dari jurusan Karawitan dan Tari. Mereka memainkan alunan musik khas Minang yang berbeda. Mereka tidak meninggalkan sisi tradisional musik Minang yang kental dengan dentingan talempong, tambuang, dan tasa.

Satu hal yang unik, mereka memadukan alat musik pukul asal Brasil, Jimbe, dan alat musik pukul asal Turki, Darabuka. Belum lagi mereka memasukkan unsur Tiongkok melalui seruling.Hasilnya, dentuman Jimbe memberikan warna musik Brasil, sedangkan dentingan talempon mempertegas warna musik Minang.

Meski memainkan musik tradisional, penampilan Macuru Art Community cukup mengundang perhatian dari wisatawan yang sedang menikmati area taman di sekitar Jam Gadang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pengamatan Tribunnews.com, Sabtu (10/5/2014) malam, baik tua-muda dan pria-perempuan, mereka berkerumun membentuk lingkaran mengelilingi Macuru Art Community.

Tidak hanya mendendangkan alunan musik khas Minang, Macuru Art Community juga menampilkan tarian. Tarian itu dibawakan oleh anggota perempuan, sedangkan anggota pria memainkan alat musik.

“Kita memang memainkan musik-musik Minang. Kita mengembangkan musik Minang dengan selera sendiri agar musik ini semakin dikenal luas,” ujar Arif seorang anggota kepada Tribunnews.com.

Komunitas ini sudah berdiri selama dua tahun. Setiap akhir pekan, mereka mentas di area taman Jam Gadang yang menjadi ikon Bukit Tinggi. “Kita tidak pernah diusir (oleh Satpol PP). Kita jual budaya,” kata Arif.

Penulis: Deodatus Pradipto
Editor: Rendy Sadikin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved