Ponorogo Tempatnya Sepeda Onthel Kuno

"Di Ponorogo yang paling mahal sepeda milik Mbah Domo. Beliau memiliki puluhan sepeda Gazele asli keluaran Belanda. Itu pusat kolektor Gazele

Ponorogo Tempatnya Sepeda Onthel Kuno
Ilustrasi sepeda tua melakukan parade 

TRIBUNNEWS.COM,PONOROGO - Komunitas sepeda unta (kuno/tua) saat ini kian menjamur.

Harga sepeda onthel kuno pun melambung tinggi.

Sepeda kuno (unta) memang paling banyak ditemukan di Ponorogo. Kendati demikian, sepeda kuno yang kini mulai dikembangkan geliatnya melalui berbagai komunitas sepeda kuno itu, memiliki seni perburuan tersendiri.

Pangsa pasar sepeda kuno (tua) itu mulai seharga Rp 3 juta sampai Rp 6 juta, seperti yang ada di Pasar Sepeda Onthel di JL Pahlawan, Kota Ponorogo.

Bahkan ada sepeda milik kolektar dibandrol Rp 50- Rp 60 juta.

Untuk sepeda kuno di pasaran itu, harganya jauh dibawah harga sepeda di tangan kolektor karena faktor keasliannya (original) seluruh onderdilnya.

Apalagi, sepeda kuno itu keluaran sebelum Tahun 1945 atau Kemerdekaan Indonesia.

"Sepeda kuno ini harganya ditentukan keaslian, tahun pembuatan, serta mereknya. Kalau yang kami jual di pasar ini hanya seharga Rp 3 juta sampai Rp 6 juta, kan tidak original semuanya," terang Sholikin (55) kepada Surya (Tribunnews.com Network) , Selasa (10/6/2014).

Lebih jauh warga Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo yang membuka stan penjualan sepeda kuno di Pasar Sepeda di JL Pahlawan, Kota Ponorogo menguraikan, untuk sepeda kuno yang paling banyak diminati pembeli adalah merek Gazele, Humber, Religh, Fongres, Begos, Batavus, dan Simplex.

Akan tetapi, semua yang asli rata-rata sudah ada di tangan para kolektor sepeda kuno.

Salah satunya milik kolektor warga JL Jenderal Sudirman, Ponorogo, Mbah Domo yang rumahnya berdekatan dengan gedung DPD Golkar Kabupaten Ponorogo.

"Di Ponorogo yang paling mahal sepeda milik Mbah Domo. Beliau memiliki puluhan sepeda Gazele asli keluaran Belanda. Itu pusat kolektor Gazele atau kolektor asal Dusun Ngumbul, Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun itu ditawar Rp 60 juta saja tidak diberikan," katanya.


"Semua masih original. Bahkan bannya masih original. Kalau kontes ban yang ori dipasang tetapi kalau dipakai harian ban diganti yang biasa," imbuhnya.

Sedangkan kolektor sepeda kuno lainnya ada di Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Ponorogo memiliki unsur keaslian yang sama dengan kolektor lainnya.

"Saya hanya menunjukkan pada calon pembeli, jika mereka memburu sepeda kuno yang benar-benar asli. Karena sepeda yang saja jual ini tidak ada yang keluaran Tahun 1945. Makanya, kalau ada pembeli saya sarankan ke para kolektor itu," ucapnya.

Selama ini, kata bapak 3 anak yang sudah menyelesaikan semua perkuliahannya itu menguraikan sepeda kuno di Ponorogo memang banyak diburu kolektor dari Magetan, Kediri, Blitar, Tulungagung, Malang, Bali, serta Sragen dan Yogyakarta, Jawa Tengah.

Hal ini disebabkan saat jaman penjajahan peredaran sepeda kuno di Ponorogo terbanyak se Jawa Timur.

"Kolektor Malang dan Bali itu memburu merek tertentu. Pasar sepeda Ponorogo merupakan Pasar sepeda terbesar se Propinsi Jawa Timur. Makanya dikenal kolektor Bali yang khusus mencari merek Humber dan Simplex. Sedangkan kolektor Malang yang dicari merek Simplex," ungkapnya.

Selama ini, kata Solikhin yang sudah bertemu puluhan kolektor sepeda kuno dari berbagai kota dan provinsi ini menguraikan, jika tak dijual dengan harga Rp 20 juta sampai 60 juta, biasanya kolektor ditawari barter oleh calon pembeli sepeda kunonya.

Yakni dijual tukar Motor Honda Vario baru atau bahkan ditukar dengan mobil gaul seharga Rp 60 jutaan.

"Sepeda kuno ditangan kolektor itu termurah Rp 20 juta hingga tak terbatas harganya, tinggal minat dan selera pembeli. Selama ini sudah sering sepeda dibarter dengan mobil atau motor, pokoknya harganya disesuaikan karena memang masih asli," urainya.

Sementara mengenai onderdil sepeda kuno di Ponorogo, kata Solikhin dianggap masih menjadi sentra.

Alasannya, para kolektor sepeda tak pernah mencari keluar daerah di luar Ponorogo, akan tetapi para kolektor asal luar Kota Ponorogo malah mencari di Ponorogo yang dianggap menjadi pusat penjualan onderdil sepeda kuno.

"Kalau pasar ini komplit mau onderdil sepeda Kuno segala merek ada. Banyak warga luar daerah mencari barang dari Pasar Sepeda Ponorogo. Karena sejarahnya Ponorogo itu dulu paling banyak peredaran sepeda saat masa jaman penjajahan Belanda," paparnya.

Permintaan pasar lebih besar lantaran komunitas sepeda kuno atau unta selama ini yang ada di Ponorogo lebih banyak vakumnya.

Sedangkan di kota atau daerah lain lebih cenderung dinamis dan semakin dikembangkan.

"Pokoknya semua bergantung kebanggaan pemiliknya serta intensitas komunitas sepeda kuno berinteraksi dengan masyarakat melalui sejumlah acara resmi atau tak resmi," pungkasnya.


Tags
sepeda tua
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved