Masjid Ploso Kuning Berdiri Sebelum Keraton Yogyakarta

"Masjid ini lebih dulu ada daripada Keraton Yogyakarta. Keraton berdiri 1755 sedangkan masjid telah ada sejak 1724," ujar Suprobo, marbot masjid.

Masjid Ploso Kuning Berdiri Sebelum Keraton Yogyakarta
Tribun Jogja/Hamim Thohari
Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning di Jalan Plosokuning Raya No. 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. (Tribun Jogja/Hamim Thohari)

Laporan Repoter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Beberapa bangunan bersejarah di Yogyakarta masih kokoh berdiri dan terawat keberadaannya. Beberapa di antaranya adalah empat masjid Pathok Negoro, yang salah satunya lebih dulu berdiri ketimbang Keraton Yogyakarta.

Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning, satu di antara empat masjid, berada di Jalan Plosokuning Raya No. 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Pathok Negoro berarti batas negara, aturan negara atau dasar hukum negara.

“Masjid ini dulunya berada di selatan masjid yang sekarang berdiri. Masjid ini lebih dulu ada daripada Keraton Yogyakarta. Keraton berdiri 1755 sedangkan masjid telah ada sejak 1724," terang Suprobo, marbot atau pengurus masjid.

Menurut kisahnya, Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning didirikan Kyai Mursodo putra Kyai Nur Iman yang berasal dari daerah Mlangi. Kyai Nuriman merupakan saudara dari Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Sesaat setelah membangun Keraton serta Masjid Gede Kauman, Sri Sultan Hamengkubuwono I memindahkan Masjid Ploso Kuning ke tempat yang saat ini menjadi lokasi Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning.

Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning dipindah dan dibangun ulang setelah pembangunan Masjid Gede Kauman. Sehingga bentuk masjid tersebut meniru Masjid Gede Kauman. Terlihat dari model tumpang dan mahkota di atasnya. "Masjid Kauman tumpangnya ada tiga, di masjid ini cuma dua tumpang," terang Suprobo.

Keaslian Masjid Pathok Negoro Plosokuning bisa dilihat pada bagian atap di mana bagian atasnya terdapat mahkota atau mustoko Gada bersulur yang terbuat dari tanah liat. Sampai sekarang masih terpasang di puncak atap masjid.

Di setiap Masjid Pathok Negoro terdapat kolam keliling, pohon sawo kecil dan terdapat bedug, pentongan dan mimbar. Semua itu masih dipertahankan. “Semua tiang penyangga ini sebagian besar masih asli dan terbuat dari kayu jati,” imbuhnya.

Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved