Air Sungai Karang Mumus Bahayakan Kesehatan Warga Samarinda

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Samarinda baru ini mengadakan pengujian kualitas air di Sungai Karang Mumus.

Air Sungai Karang Mumus Bahayakan Kesehatan Warga Samarinda
tribunkaltim/nevrianto
Warga sekitar Karang Mumus, Samarinda memanfaatkan air bantaran Sungai Karang Mumus di Jl S Parman untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari. Pemkot Samarinda berencana menata kawasan Sungai Karang Mumus, dan warga yang tinggal di bantaran sungai tersebut akan direlokasi ke Handil Kopi Samarinda ilir 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Doan Pardede

TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Samarinda baru ini mengadakan pengujian kualitas air di Sungai Karang Mumus. Hasilnya, air sungai tersebut yang biasa digunakan warga setempat untuk mandi, cuci dan berbagai kegiatan lainnya tersebut dinyatakan sangat tidak baik untuk kesehatan.

Oleh karena itu, BLH Samarinda menginstruksikan agar seluruh warga yang tinggal dibantaran Sungai Karang Mumus tidak lagi menggunakan air tersebut.

"Warnanya hitam, ini tidak baik bagi kesehatan mereka," kata Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Tukiran belum lama ini.

Dipaparkannya, kondisi air yang sudah tidak steril dan menghitam tersebut sangat beresiko tinggi bagi kesehatan masyarakat. Dampak buruk akibat menggunakan air Sungai Karang Mumus ini menurutnya memang tidak akan dirasakan saat ini tapi di kemudian hari.

"Ya banyak yang ngomong saya aja yang sudah bertahun-tahun mengunakan air hitam ini untuk mandi tidak terjadi apa-apa. Ya jangan meremehkan kesehehatan, karena belum tentu dampaknya dikemudian hari," jelasnya.

Kondisi air menghitam saat ini kata Tukiran, juga diakibatkan dampak dari kemarau panjang yang terjadi hampir selama tiga bulan terakhir ini. Kondisi ini menurutnya, akan kembali dalam keadaan normal jika  turun hujan.

Masyarakat Samarinda khususnya yang tinggal di bantaran sungai juga diminta untuk melakukan pola hidup bersih. Diantaranya dengan tertib membuang sampah ditempat yang telah disediakan dan bukan di aliran sungai. Selain dapat mengakibatkan banjir, hal ini juga mengakibatkan sungai tersebut tercemar.

"Kadang warga lewat diatas jembatan mengunakan mobil terus membuang sampah seenaknya saja. Etika kesadaran masyarakat untuk membuang sampah ini juga peerlu dibawah dalam kebiasaan sehari-hari oleh masyarakat," katanya.

Selain air Sungai Karang Mumus, BLH juga mengambil sampel air disejumlah sungai dan diantaranya Sungai Mahakam. Namun khusus untuk Sungai Mahakam, pengujian masih berlangsung sehingga hasilnya belum diketahui.

"Ya kami terus memantau perkembangan kualitas air, dalam satu tahun ini kami melaksakannya selama enam kali, dan hasil dari sampel air mahakam ini baru bisa kita ketahui satu minggu kemudian," katanya.

Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved