Hadapi AFTA, Sulsel Masih Kekurangan Analis Kesehatan

Upaya peningkatan sumber daya manusia pada sektor analis kesehatan mesti digiatkan.

Hadapi AFTA, Sulsel Masih Kekurangan Analis Kesehatan
AP Photo
Petugas medis mengamankan pasien ebola menuju ruang isolasi di sebuah rumah sakit di Atlanta, Amerika Serikat. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Chaerul Fadli

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Upaya peningkatan sumber daya manusia pada sektor analis kesehatan mesti digiatkan. Hal tersebut untuk menghadapi pasar bebas ASEAN alias ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun mendatang.

Ketua Persatua Tenaga Ahli Laboratorium Indonesia (Patelki) DPW Sulsel, Farlina SSi Mkes menjelaskan, perdagangan bebas pada 2015 nanti juga mencakup tenaga kerja, khususnya tenaga analis kesehatan dan laboratorium.

"Tenaga kerja kita juga akan bersaing dengan tenaga kerja luar yang akan masuk. Persiapan menghadapai pasar bebas tahun depan harus dilakukan," ujarnya pada seminar Penegakan Diagnosa dan pencegahan Virus Ebola serta Peluang dan Tantangan Tenaga Kesehatan Dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015 di Ball Room Mall Panakukang, Jl Bulevard, Sabtu (15/11/2014).

Menurutnya, upaya peningkatan SDM dari mahasiswa kesehatan sendiri, harus ada kesadaran akan keberlanjutan pendidikan.

"Saat ini cuma Indonesia dan Afrika yang tenaga analis kesehatan dan laboratoriumnya masih ada tingkat Diploma 3 (D3), negara lain sudah ada yang doktor," katanya.

Analis kesehatan dan laboratorium disarankan melanjutkan pendidikan dan sadar akan pentingnya sektor ilmu lain, seperti penggunaan bahasa asing dan teknologi, Kata dia, hal itu untuk meningkatkan kemandirian SDM itu sendiri.

Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved