Kemarau Panjang, 209 Telaga di Gunungkidul Mengering

Kemarau panjang yang melanda wilayah Gunungkidul mengakibatkan ratusan telaga yang selama ini menjadi tumpuan warga mengering.

Kemarau Panjang, 209 Telaga di Gunungkidul  Mengering
Kompas Jogja/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
Dampak Musim Kemarau - Musim kemarau mengakibatkan sejumlah telaga di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, mengering seperti salah satunya ditemui di Dusun Trasih, Desa Giriasih, Kecamatan Purwosari, Selasa (24/7). Hal ini membuat warga setempat harus membeli air dengan harga Rp 1.000 per jeriken berkapasitas 30 liter untuk memenuhi kebutuhan air mereka. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hari Susmayanti

TRIBUNNEWS.COM, GUNUNGKIDUL - Kemarau panjang yang melanda wilayah Gunungkidul mengakibatkan ratusan telaga yang selama ini menjadi tumpuan warga mengering.

Dari total 280 telaga yang ada, saat ini hanya ada 71 saja yang masih ada airnya dan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Syarif Armunanto mengatakan banyaknya telaga yang mengering saat musim kemarau ini disebabkan proses sedimentasi.

Telaga-telaga semakin dangkal karena banyaknya lapisan tanah yang masuk ke dalam telaga sehingga lambat laun daya tampungnya berkurang.

Dari total 280 telaga yang ada, tercatat 232 telaga yang mengalami pendangkalan cukup parah.

Telaga-telaga tersebut akhirnya tidak bisa menampung air secara maksimal sehingga cepat mengering saat musim kemarau.

Selain dipengaruhi proses sedimentasi, banyaknya telaga yang mengering ini juga dipengaruhi oleh faktor tingginya penguapan air saat musim kemarau serta akibat ulah manusia.

“Karakteristik telaga yang ada di Gunungkidul berbeda-beda sehingga proses surutnya pun juga berbeda-beda,” katanya, Selasa( 27/10/2015).

Untuk mengatasi banyaknya telaga yang mengering ini menurut Syarif tidak bisa dilakukan dengan pengerukan.

Sebab, dari beberapa kasus, usaha pemerintah dengan melakukan pengerukan malah berdampak negatif karena air telaganya malah cepat mengering.

Upaya yang tengah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi banyaknya telaga yang mengering saat ini adalah dengan menggunakan metode telaga geomembran.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah sudah membangun embung geomembran di Nglanggeran, Sriten dan Tambakromo.

Hasilnya, metode tersebut cukup membuahkan hasil karena air yang ditampung di dalam embung bisa bertahan cukup lama.

“Tahun ini kita tidak bisa menambah jumlah embungnya,”imbuhnya. (tribunjogja.com)

Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved