Masa Panen Terlambat, Harga Tembakau Turun Drastis

1 kuintal daun tembakau basah hasil panenan biasanya hanya bisa dijadikan tembakau untuk bahan baku rokok seberat 10 kilogram

Masa Panen Terlambat, Harga Tembakau Turun Drastis
TRIBUN/HAYU YUDHA PRABOWO
Martam (63), petani tembakau melakukan perawatan tanaman tembakau Kalituri berusia empat bulan di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (9/9/2015). Harga tembakau kering di kawasan ini meningkat dari Rp 50.000 per kilogram menjadi Rp 60.000 per kilogram. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

TRIBUNNEWS.COM, TULUNGAGUNG - Sejumlah petani dan pedagang tembakau di Tulungagung, Jawa Timur mengeluhkan penurunan harga tembakau selama beberapa pekan terakhir sehingga menyebabkan mereka merugi besar.

"Harga tembakau saat ini antara Rp 20.000 hingga Rp 40.000 per kilogram sangat tidak menguntungkan, mengingat sebelumnya sempat tembus hingga kisaran Rp 60.000 lebih," ujar Mulyono, pedagang tembakau di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Sabtu (7/11/2015).

Ia mengaku tidak tahu pasti penyebab jatuhnya harga tembakau selama beberapa pekan terakhir. Dugaan Mulyono dan sejumlah petani tembakau lain, harga mulai rusak karena masa panen yang terlambat sehingga tidak bisa masuk ke gudang-gudang pabrik rokok.

"Tapi saat awal panen lalu pun harga sudah mulai turun. Jadi kami benar-benar tidak bisa memprediksi bagaimana harga tembakau bisa tidak stabil seperti ini," timpal Mukhlis, pengusaha tembakau yang lain.

Menurut dia, kerugian petani bisa digambarkan dari volume daun tembakau yang dipanen serta hasil akhir setelah dilakukan perajangan dan dikeringkan.

Menurut Mukhlis dan Mulyono, 1 kuintal daun tembakau basah hasil panenan biasanya hanya bisa dijadikan tembakau untuk bahan baku rokok seberat 10 kilogram.

Jika harga tembakau hasil olahan dengan campuran gula hanya sekitar Rp 25.000 per kilogram, artinya satu kuintal daun tembakau basah yang dipanen petani hanya menghasilkan uang sekitar Rp 250.000.

"Bagaimana mau untung, sekalipun panenan mencapai lima ton dalam satu petak ladang/sawah, hasil yang didapat tidak sebanding dengan ongkos produksi mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan hingga masa panen dan pengolahan awal," paparnya.

Untuk mencegah kerugian lebih besar, kata Mulyono petani ataupun pedagang bisa menyiasatinya dengan menimbun tembakau olahan di gudang-gudang penyimpanan.

Tembakau tersebut hanya akan dilepas saat harga kembali naik.

"Namun, strategi usaha seperti itu hanya berlaku bagi petani dan pedagang dengan modal besar. Jika tidak kuat dari segi kapital, barang pasti akan dilepas (dijual) karena untuk memenuhi kebutuhan permodalan usaha berikutnya," ujarnya.

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved