Satuan Tugas Temukan banyak Pembalak Membakar Hutan

Direktur APHI Purwadi Soeprihanto, membantah jika selama ini pembakaran hutan dilakukan oleh perusahaan

Satuan Tugas Temukan banyak Pembalak Membakar Hutan
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
KEBAKARAN LAHAN - Helikopter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencoba memadamkan kebakaran lahan dengan cara water boombing di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (18/8/2015).Ratusan hektare lahan gambut yang terbakar pada kebakaran tersebut dan asap dari kebakaran tersebut mengganggu kendaraan yang melintas di kawasan Jalan lintas timur Palembang-Inderalaya.TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Purwadi Soeprihanto, membantah jika selama ini pembakaran hutan dilakukan oleh perusahaan. Menurutnya, justru pembakaran hutan sebenarnya lebih banyak diperbuat oleh para perambah hutan.

Sebab menurutnya, perusahaan tidak dapat menguasai dan mengontrol segala tindakan di luar lahan perusahaan.

"Kami menjadi korban dari tuduhan pembakaran hutan ini padahal yang ilegal itu banyak. Masyarakat memang melakukan pembakaran, tapi cari tahu siapa dalang di belakang mereka. Dalang itulah yang selama ini melindungi dan membiayai pembakaran hutan," ujar Purwadi, Rabu (11/11).

Menurutnya, dampak kebakaran hutan ikut merugikan pengusaha karena pasokan jadi berkurang. APHI mencatat akibat kebakaran hutan ini pasokan kayu hutan tanaman industri (HTI) kuartal III turun 29 persen menjadi 6,56 juta meter kubik (m3) dibandingkan dengan kuartal II sebanyak 9,26 juta m3.

Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan TNI di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan menemukan areal pembalakan liar di kawasan hutan konservasi yang sudah ditinggalkan pelakunya.

Wakil Komandan Satgas Darat Kebakaran Hutan dan Lahan Letkol Wahyu mengatakan, penemuan kawasan pembalakan liar ini terjadi sepekan lalu setelah tentara menemukan jalan rintis berbahan kayu yang tertutup pohon-pohon besar.

"Jika tidak dilakukan pemantauan langsung dengan berjalan kaki maka tidak bisa ditemukan kawasan pembalakan liar ini, karena jika dipantau dari udara, tidak bisa terlihat. Jalan ini tertutup rimbunnya hutan," kata dia.

Aparat menemukan tenda-tenda yang sudah ditinggalkan pembalak, termasuk beberapa unit sepeda motor yang sudah dimodifikasi untuk mengangkut kayu.

"Kasus ini terus dikembangkan, dan sudah dilaporkan ke kepolisian untuk ditindaklanjuti," kata dia.

Ia menceritakan, asal muasal penemuan kawasan pembalakan liar ini, setelah data citra satelit BNPB menunjukkan munculnya titik api baru di kawasan mineral (bukan lahan gambut).

Setelah ditelusuri petugas Satgas menemukan kawasan pembalakan liar. Api bersumber dari pembakaran jerami, dan sisa-sisa ranting dari pohon yang sudah dipotong oleh pelaku illegal logging.

Selain memantau secara langsung, TNI juga fokus memberikan sosialisasi ke warga terutama di kawasan OKI yakni Cengal, Pedamaran, dan Sungai Menang, untuk mengingatkan agar tidak membakar lahan untuk tujuan pembersihan.

1.000 orang personel TNI dari Mabes TNI masih bersiaga di Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan llir. Sedangkan total personel jika digabung dengan personel TNI di daerah menjadi 2.328 orang.(Hendra Gunawan)

Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help