Cuaca Ekstrem, Pasokan Sembako ke Sumenep Terhenti, Warga Kepulauan Terancam Krisis Pangan

Cuaca ekstrem terjadi sejak awal Februari lalu, di perairan Kabupaten Sumenep, Madura, mengakibatkan pelayaran ke Kepulauan di Sumenep terhenti

Cuaca Ekstrem, Pasokan Sembako ke Sumenep Terhenti, Warga Kepulauan Terancam Krisis Pangan
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, SUMENEP - Cuaca ekstrem terjadi sejak awal Februari lalu, di perairan Kabupaten Sumenep, Madura, mengakibatkan pelayaran ke sejumlah Kepulauan di Sumenep terhenti.

Hal itu pula berakibat pada mandeknya pasokan sembako ke wilayah kepulauan, sehingga mengancam persediaan pangan dan krisis sembako.

Moh Akbar (38) perangkat Desa Sukajeruk, Kecamatan Masalembu, Pulau Masalembu, Sumenep, mengatakan, sejatinya cuaca luat yang cukup ekstrem sudah terjadi akhir Januari lalu, namun yang sangat ekstrem terjadi mulai awal Februari lalu.

Cuaca laut tidak bersahabat, sehingga tidak ada satu pun kapal atau perahu pengangkut barang berlayar ke daerahnya.

‘’Sejak itu warga Pulau Masalembu hanya bertahan pada persediaan sembako yang telah dikirim sebelumnya. Padahal persediaan sembako di sejumlah toko di pulau Sapeken sudah menipis,’’ ujar Akbar, Kamis (9/2/2017).

Dikatakan, untuk sejumlah pulau-pulau kecil yang berada di sekitar wilayah kepulauan Masalembu, warga sudah mulai mengabarkan kalau persediaan sembako sudah habis.

Mereka mulai kebingunan untuk mendapatkan pasokan sembako. Apalagi sebagian besar pulau-pulau kecil tersebut tidak ada lahan untuk tanaman padi dan jagung.

‘’ Makanya, untuk pulau-pulau kecil, seperti pulau Masakambing dan Keramian, kebutuhan beras dan jagung selalu mendapatkan ditsribusi dari daratan Sumenep, Situbondo bahkan dari Provinsi Bali,’’ jelasnya.

Di Pulau Sapeken, tidak saja pasokan sembako yang mulai habis, saat ini pun penduduk Pulau Sapeken yang sebagian berprofesi sebagai nelayan pun tidak bisa melaut.

Mereka terpaksa menganggur karena ombak laut sangat besar.

‘’ Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, mereka terpaksa menggadaikan atau bahkan menjual barang-barang berharganya,’’ kata Suripto, warga Pulau Sepanjang, Kepulauan Sapeken, melalui sambungan telepon selulernya, Kamis (9/2/2017).

Pihaknya berharap ada langkah-langkah strategis dari Pemkab Sumeneo untuk mengatasi persoalan yang sangat mendasar bagi masyarakat kepulauan. Karena bilamana taka da distribusi sembako ke pulau, maka bukan tidak mungkin mereka akan kelaparan.

Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Surabaya, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Sumenep, menyebutkan berdasarkan analisa medan angin pada 6 Februari lalu, terdapat daerah pusat tekanan rendah di Samudera Hindia, sebelah barat Australia, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan angin.

Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved