Secuil Kisah Kehidupan Gay di Semarang

Pesta seks sesama laki-laki itu, cenderung eksklusif dan tertutup. Yang boleh terlibat di dalamnya harus saling kenal.

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Toni, bukan nama sebenarnya. Ia mengklaim komunitas gay ada di Kota Semarang. Bahkan pesta seks sesama laki-laki itu, juga rutin digelar.

Namun, aktivitas tersebut, menurut Toni, cenderung eksklusif dan tertutup. Yang boleh terlibat di dalamnya harus saling kenal.

Modus pesta seks sesama jenis, bermula melalui pesan berantai atau sosial media gay seperti Grindr, Hornet, dan Blued.

Barulah setelah saling cocok, mereka janjian untuk bertemu kencan di satu lokasi. Lokasi berkumpulnya gay kadang di polder Tawang atau tempat lain sesuai kesepakatan.

Ada beberapa jenis gay dalam hal kelasnya, misalnya kalangan menengah atas biasanya menjadikan klub malam serta coffee shop sebagai lokasi mereka beredar. Ada juga pelacur gay, atau biasa disebut "kucing".

Pelacur gay juga melayani pelanggan gay. Sebagian dari mereka para pelanggan adalah pria yang sudah punya anak istri. Sekali kencan tarifnya kira-kira Rp 300 ribu.

Toni mengakui dirinya telah merasa menjadi gay sejak kecil. Hanya saja ia benar-benar sadar sebagai pecinta sesama jenis sejak SMA.

Ia menuturkan ada juga dari rekan-rekannya sesama gay yang mengalami perubahan ketertarikan seksual karena pergaulan dan lingkungan. Seperti lama di asrama, penjara, hingga pendidikan militer.

Setelah bertahun-tahun menjadi pecinta sesama jenis, Toni mengakui pernah tidur dengan mereka dari berbagai kalangan, mulai dari warga sipil, mahasiswa, hingga aparat. Itu dilakukan di hotel.(*)

Editor: Willem Jonata
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help