Ini Tanggapan Filolog dan Arkeolog Atas Klaim Majapahit Sebagai Kerajaan Islam

Sebuah hasil kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit merupakan Kesultanan Islam dipertanyakan oleh arkeolog senior dan ahli naskah kuno

Ini Tanggapan Filolog dan Arkeolog Atas Klaim Majapahit Sebagai Kerajaan Islam
BBC INDONESIA
Arkeolog senior Mundardjito di ruangan kerjanya di kediamannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, 2012. 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah hasil kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit merupakan Kesultanan Islam dipertanyakan oleh arkeolog senior dan ahli naskah kuno, karena dianggap tidak berdasarkan bukti-bukti yang kuat.

Mereka kemudian mengusulkan agar kajian itu dibahas bersama para ahli di bidangnya sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya.

Hasil kajian sebenarnya sudah dibukukan dengan judul Majapahit, Kerajaan Islam: Fakta Mengejutkan, pada 2010 lalu namun belakangan kembali menjadi sorotan di media sosial setelah seseorang mengutip keterangan dari buku tersebut.

Secara garis besar, kutipan itu menyebutkan bahwa Majapahit merupakan Kesultanan Islam dan Maha Patih kerajaan itu, Gadjah Mada, memiliki nama asli Gaj Ahmada dan beragama Islam.

Namun arkeolog senior Mundardjito -yang pernah melakukan penelitian di situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur- mengatakan klaim itu tidak memiliki bukti-bukti ilmiah yang kuat.

"Kok semuanya jadi di-Islam-Islamkan. Padahal, candi-candinya, reliefnya, semuanya enggak (Islam)," kata Mundardjito kepada BBC Indonesia, Minggu (18/6/2017) sore.

Menurutnya, secara stastitik, jumlah cagar budaya yang berupa bangunan dan arca -yang tersebar luas di kawasan yang diyakini merupakan peninggalan kerajaan Majapahit- semuanya bersifat Hindu-Buddha.

"Benda-benda tidak bergerak itu tersebar sampai ke daerah Malang dan sebagainya, dan bangunannya jumlahnya ratusan, dan bentuknya bukan masjid, tapi (bersifat) Hindu-Buddha," jelas Mundardjito.

Adanya benda-benda cagar budaya itu, lanjutnya, merupakan bukti yang tidak bisa dibantah. Sebaliknya, bukti-bukti tulisan atau cerita lisan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Kalau benda itu wujudnya ada, itu 'kan bukti. Tapi kalau, misalnya, (tulisan) di koran, itu 'kan tertulis. Dan itu bisa saja dipakai untuk analisa untuk kepentingan macam-macam," katanya lebih lanjut.

Halaman
1234
Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help