Suka Duka Sarmin Merawat Gajah di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan

Pria asal Solo, Jawa Tengah ini sejak tahun 1986 sudah menjadi mahout saat bekerja di Taman Nasional Way Kambas, Lampung.

Suka Duka Sarmin Merawat Gajah di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan
TRIBUNNEWS/SYAHRIZAL SIDIK
Aktivitas keseharian Sarmin merawat gajah di Camp Flying Squad di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Syahrizal Sidik

TRIBUNNEWS.COM, UKUI – Dengan penuh kesabaran, Sarmin memberikan instruksi kepad Adei, nama gajah yang dirawatnya di Camp Flying Squad di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, untuk membuka mulut, disusul dengan menyuapkan puding ke mulut gajah itu sambil terus mengelus-elus kepala sang gajah.

Kecintaannya pada binatang, khususnya gajah, membuat Sarmin (43) menekuni pekerjaannya sebagai mahout.  

Pria asal Solo, Jawa Tengah ini sejak tahun 1986 sudah menjadi mahout saat bekerja di Taman Nasional Way Kambas, Lampung.  

Namun, sejak 2016, dirinya ditugaskan menjadi mahout yang berfokus menangani gajah-gajah liar
di Camp Flying Squad di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Sebagaimana diketahui, di resort ini, populasi gajah liar mencapai 300-400 ekor gajah. Untuk di kawasan ini, ada enam gajah yang dikelolanya bersama kedelapan mahout lainnya.

Aktivitas keseharian Sarmin merawat gajah
Aktivitas keseharian Sarmin merawat gajah di Camp Flying Squad di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.

“Gajah itu hewan yang sensitif, seperti perempuan, harus pintar-pintar merujuk, kadang pas kita sudah kasih makan, dia masih mau manja,”kisah Sarmin saat ditemui di Estate Ukui, Kamis, (14/9/2017).

Pengalaman Tak Terlupakan

Ada juga pengalaman yang tak bisa dilupakannya. Sekira tahun 1990, Sarmin membawa dua ekor gajah menyeberangi laut dari Lampung ke Kalimamtan.

“Perjalanan hampir seminggu, menerjang ombak, kami bawa lewat kapal laut  melalui kontainer terpisah dan dibawa ke Kalimantan,” ujarnya.

Saat itu, dirinya merasa kasihan, pakan yang dibawanya hanya cukup untuk dua hari. Alhasil, gajah jadi kekurangan makan. Masyarakat yang merasa iba pun memberikan makanan, seperti nasi dan buah-buahan alakadarnya.

“Tapi pas gajah sampai di Kalimantan, seneng dia, makanannya kan sama kayak di sini (Way Kambas),” ujarnya sambal tertawa.  

Sementara itu, pengalaman yang kurang menyenangkan juga dialaminya, saat hujan deras, dirinya harus tetap menggembala mencari makan gajah.

“Yang repot kan kalau hujan, kita harus tetap ngangon dia (gajah), hujan-hujanan,” kata Sarmin.

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved