Peti Batu di Aceh Jaya Mulai Digali

Meski tim sudah tiba di lokasi, tapi peti batu itu masih disungkup misteri karena tidak langsung dibongkar

Peti Batu di Aceh Jaya Mulai Digali
Serambi Indonesia
Camat Setia Bakti dan warga memperlihatkan batu mirip peti di Desa Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya. Foto direkam Kamis (28/9/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, ACEH  - Tim arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara, Rabu (8/11) kemarin, mulai meneliti peti batu yang diduga sarkofagus (peti mayat dari batu) peninggalan masa lampau di Desa Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya.

Meski tim sudah tiba di lokasi, tapi peti batu itu masih disungkup misteri karena tidak langsung dibongkar, sehingga belum terjawab apakah peti batu itu berisi tulang belulang manusia, harta karun, atau justru tak berisi apa-apa.

Sebelum penelitian diawali oleh tim arkelogi kemarin, tokoh masyarakat Lhok Geulumpang mem-peusijuek lokasi tersebut maupun anggota tim arkeologi, agar penelitian tersebut berlangsung sukses tanpa gangguan apa pun.

Kepala Balai Arkeologi Sematera Utara, Dr Ketut Wiradnyana kepada Serambi, Rabu (8/11) mengungkapkan bahwa ia hampir bisa menduga bahwa batu mirip peti itu bukanlah sarkofagus yang biasanya sebagai tempat menyimpan mayat atau tulang belulang manusia, atau justru tempat menyimpan harta karun seperti diduga masyarakat setempat selama ini.

Baca: Misteri Peti Batu di Lhok Geulumpang Bakal Terungkap, Benarkah di Dalamnya Harta Karun?

Ia lebih cenderung bahwa peti batu itu sekadar benda yang dipahat oleh seseorang atau lebih yang dilakukan baik pada masa kolonial dan justru zaman kontemporer.

“Batu segi empat mirip peti yang dianggap sarkofagus oleh masyarakat Aceh Jaya dan sekitarnya itu hampir bisa kita duga bukan sarkofagus, sebab fungsi sarkofagus adalah untuk menyimpan mayat atau harta karun,” jelas Ketut Wiradnyana.

Namun demikian, arkeolog asal Bali ini bersama anggota timnya akan menuntaskan penelitian tersebut untuk mengungkap apa sebenarnya benda yang berbentuk peti itu.

Ketut berteori, jika pemahatan di batu itu dilakukan pada masa kolonial biasanya itu untuk kepentingan panel berbentuk gambar tertentu yang dijadikan sebagai penolak bala atau dijadikan media pemujaan.

“Sedangkan jika dipahat pada masa sekarang bisa saja itu sebagai kepentingan untuk pengambilan bagian batu untuk dijadikan mata cincin atau keperluan lainnya,” kata Ketut.

Halaman
12
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help