Penampilan Sang Dara Curi Perhatian di Pasar Keroncong Kotagede

Para penonton pun larut dengan turut menyanyikan tembang berjudul Sepanjang Jalan Kenangan ini dan di saat yang bersamaan hujan turun rintik rintik.

Penampilan Sang Dara Curi Perhatian di Pasar Keroncong Kotagede
TRIBUN JOGJA
Musisi asal Amerika Serikat, Hanna Standiford diiringi OK Karisma pentas saat gelaran Pasar Keroncong Kotagede 2017 di Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (9/12). Even tahunan ketiga kali ini tersebut mengusung tema 'Gotong Keroncong Bebarengan'. 

"Kelompok kami baru terbentuk beberapa bulan, semua adalah siswa dari Sekolah Menengah Musim (SMM) Yogyakarta. Kami semua awalnya memang bukan dari musim keroncong, setelah belajar ternyata kami jadi suka dan sampai sekarang," kata Dewi.

Di kesempatan yang sama, Basuki, pelatih Orkes Keroncong Sang Dara berharap, ke depan keroncong di tangan anak-anak muda seperti Sang Dara ini bisa lebih luwes dalam artian lebih entertain agar musim keroncong juga bisa Milenial.

"Kalau bukan anak-anak muda seperti mereka yang mencintai keroncong, lalu siapa lagi. Kami para musisi keroncong juga berharap dukungan dari banyak pihak agar media menyalurkan talenta keroncong bisa memberi harapan baik sebagai masa depan, sebagai profesi," terang Basuki.

Sementara itu, Djaduk Ferianto satu dari beberapa inisiator Pasar Keroncong Kotagede menuturkan, penampil kali ini 70 persen adalah musisi muda.

Hal ini diharapkan menjadi momen untuk lebih mengenalkan musik keroncong ke generasi muda.

Soal tema yang dipilih, yakni Gotong Keroncong Berbarengan, Djaduk menekankan bahwa plesetan gotong royong ini menjadi sebuah tema yang pas dengan kondisi Indonesia yang menurutnya sedang mengalami penurunan semangat gotong royong.

"Ini menjadi kerja bersama semua masyarakat Kotagede dan ini merefleksikan semangat gotong royong dalam membuat sebuah pertunjukan," terang Djaduk.

Pria yang sudah lalu lalang di dunia seni pertunjukkan ini mengatakan bahwa festival musik keroncong ini disebutnya sebagai sebuah keroncong zaman now atau Neo keroncong.

Bukan untuk merusak tatanan keroncong namun menjadi sebuah produk seni yang terus tumbuh.

"Pijakannya dan ruhnya tetap keroncong, karena ini produk seni dan seni itu tumbuh jadi hal yang wajar bila produk seni ini juga tumbuh," terang Djaduk.

Editor: Fajar Anjungroso
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help