Asmat Tidak Terima Organisasi Liar

Pihaknya harus menjalankan tanggungjawab sebagai pengawas kegiatan-kegiatan organisasi-organisasi yang berada di Asmat.

Asmat Tidak Terima Organisasi Liar
TRIBUNNEWS.COM/HO
Instalasi sterilisasi air minum di area Masjid An Nur, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua, resmi beroperasi. Program yang didanai Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan beberapa donatur ini, diresmikan Bupati Asmat, Elisa Kambu, di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, Selasa (13/3). Acara ini dihadiri Direktur Pendistribusian Zakat Nasional BAZNAS, Mohd. Nasir Tajang, unsur muspida, pemuka agama dan tokoh masyarakat setempat. TRIBUNNEWS.COM/HO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah beberapa minggu berada di Asmat untuk membantu penanganan gizi buruk di kabupaten di sebelah selatan Papua Barat itu, ternyata pihak berwenang hingga kini belum menerima laporan keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI).

Hal itu ditegaskan oleh Sekretaris Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) Kabupaten Asmat, Maximillian AX Apituley. "Hingga kini, mahasiswa UI itu belum melapor ke kami,” tegas Maximilllian dalam pernyataan persnya, Selasa(13/3/2018).

Padahal, kata Maximillian, pihaknya harus menjalankan tanggungjawab sebagai pengawas kegiatan-kegiatan organisasi-organisasi yang berada di Asmat.

“Ini seiring dengan keluarnya surat pemberitahuan Nomor 300/136.b/Setda/II/2018 tentang berakhirnya ststus KLB campak dan gizi buruk di Asmat,” tambahnya.

Berdasarkan surat itu, sekretaris daerah kabupaten Asmat memerintahkan Bakesbangpol untuk melakukan pemantauan terhadap lembaga-lembaga swasta/LSM, maupun perguruan tinggi yang melaksanakan kegiatan di setiap distrik maupun kampung.

Mereka ini wajib melaporkan kehadirannya di Asmat.Merujuk pada laporan itu, selanjutnya Bakesbangpol akan mengeluarkan izin atau rekomendasi.

“Bila hingga detik ini mereka belum melapor, kami imbau untuk segera melapor,” kata Maximillian.

Jika tidak melapor tentu mereka dianggap sebagai organisasi liar oleh Pemkab Asmat.Maximillian menambahkan, ada beberapa LSM seperti GABRUK yang mengaku berada di Asmat. Namun hingga kini keberadaan mereka tidak jelas.

"Karena itu, Bakesbangpol tidak mengakui keberadaan mereka. Dan segala pernyataan mereka akan kami minta pertanggungjawabannya. Hingga kini organisasi yang secara resmi telah menjalankan aksi sosialnya di Asmat baru tiga organisasi. Yakni, Sekolah Relawan, Wahana Visi Indonesia, Baznas. Ketiganya beroperasi di Agats. Selanjutnya Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan berada di Agats pada minggu depan. Dan BEM UI belum pernah ada di Asmat,” tegas Maximillian.   

tokoh masyarakat Asmat, Pastor Hendrik Hada menyatakan kepada pihak-pihak yang datang hanya karena mencari popularitas politik lebih baik tidak perlu datang. Menurut Hendrik, masyarakat Asmat butuh kerja nyata bukan omongan saja. 

Karena itu dia mengecam bila ada pihak-pihak yang menjadikan masalah di Asmat sebagai senjata politik untuk kepentingan politik semata.

“Jangan politisisasi persoalan Asmat,” pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved