Kemensos All Out Dampingi Korban Pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo

Pendampingan psikososial yang dilakukan di antaranya adalah mengunjungi keluarga korban meninggal untuk bersilaturahmi dan menyampaikan duka cita

Kemensos All Out Dampingi Korban Pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo
Istimewa
Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang terdiri dari unsur Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Tenaga Pelopor Perdamaian dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) melakukan pendampingan dan advokasi sosial kepada keluarga korban meninggal dan korban luka pengeboman tiga gereja di Surabaya dan Rusunawa Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo. 

TRIBUNNEWS.COM, SUARABAYA - Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang terdiri dari unsur Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Tenaga Pelopor Perdamaian dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) melakukan pendampingan dan advokasi sosial kepada keluarga korban meninggal dan korban luka pengeboman tiga gereja di Surabaya dan Rusunawa Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat menjelaskan Tim LDP dibagi ke sejumlah titik.

Pertama, pendampingan korban yang tersebar di delapan rumah sakit di Surabaya, pendampingan warga terdampak ledakan di Rusunawa Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo dan media center Polda Jawa Timur untuk memantau perkembangan informasi terbaru dan selanjutnya akan di informasikan ke Pusdalops Tagana Jatim.

“Kami telah intruksikan seluruh anggota tim untuk all out membantu bersama unsur relawan lainnya. Yang paling mendesak adalah melaksanakan pendampingan psikososial, seperti trauma healing,” katanya.

Dirjen menjelaskan pendampingan psikososial yang dilakukan di antaranya adalah mengunjungi keluarga korban meninggal untuk bersilaturahmi dan menyampaikan duka cita.

Selanjutnya menyampaikan persyaratan-persyaratan agar ahli waris mendapatkan santunan kematian dari Kemensos.

Baca: Massa Adang Mobil Rombongan Dirjen Kemensos dan Bupati Aceh Timur, Tuntut Legalkan Sumur Minyak

“Begitu juga dengan korban luka, pendampingan terus berjalan secara intensif dan melalui pendekatan-pendekatan personal agar segala sesuatnya berjalan lancar. Kami tekankan untuk sangat berhati-hati mengingat suasana batin mereka masih sangat berduka,” katanya.

Dikatakan Harry, proses pendekatan keluarga harus mengedepankan etika dan memahami situasi yang diliputi rasa kehilangan dan kesedihan.

Proses komunikasi dengan keluarga korban terus berjalan dan dijalankan dengan baik oleh Tagana dan Tenaga Perlopor Perdamaian.

Ia menyebutkan berdasarkan laporan tim LDP, hingga Selasa siang (15/5) jumlah korban luka yang telah terdata sebanyak 94 orang dan pendataan ahli waris korban meninggal sebanyak 18 orang. Jumlah santunan kematian untuk setiap ahli waris adalah Rp15 juta per jiwa dan santunan untuk korban luka-luka maksimal Rp5 juta per jiwa.

Halaman
12
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help