Kebakaran Lahan Hutan

BNPB Datangkan 10 Helikopter 'Water Bombing' Untuk Atasi Kebakaran di Pontianak

Satgas darat dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebarakan, Satpol PP dibantu pemadam kebakaran swasta

BNPB Datangkan 10 Helikopter 'Water Bombing' Untuk Atasi Kebakaran di Pontianak
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
Ilustrasi - Helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan water boombing untuk pemadaman lahan yang terbakar di Desa Muara Baru, Pamulutan, Kabupaten Ogan Ilir 

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) mengerahkan 10 unit helikopter untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

Lahan gambut yang terbakar menyebabkan kendala dalam pemadaman. Selain itu cuaca kering juga menyebabkan ketersediaan air mulai terbatas serta daerah yang terbakar cukup luas menghambat upaya pemadaman.

Baca: Dramatis, Sopir Bus Lelet, Metty Ambil Alih Setir dan Kendarai Sendiri Angkutan Bandara ke Kualanamu

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan saat ini tim satgas terpadu terus berjibaku untuk padamkan api kebakaran hutan dan lahan.

Satgas darat dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebarakan, Satpol PP dibantu pemadam kebakaran swasta dan relawan terus memadamkan di darat.

"Satgas udara melakukan pemadaman dari udara. BNPB mengerahkan 10 helikopter yang digunakan untuk patroli dan water bombing," ujar Sutopo, Kamis (23/8/2018) malam.

Selain itu, ungkap Sutopo, BNPB dan BPPT juga terus bekerja sama melakukan hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca menggunakan pesawat Casa 212-200 TNI AU.

"Sudah 5 ton bahan semai Natrium Clorida (NaCl) ditaburkan ke dalam awan-awan potensial di angkasa dan dalam beberapa hari sudah mulai turun hujan, meski tidak merata. Namun mengurangi jumlah kebakaran yang ada," ungkapnya.

Banyaknya titik panas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat ini, sebut Sutopo juga terkait dengan kebiasaan masyarakat membakar lahan sebelum membuka lahan.

Meskipun pemerintah daerah telah melarang, namun ternyata kebiasaan ini masih dipraktekkan di banyak tempat.

"Tantangan ke depan bagaimana memberikan solusi kepada masyarakat agar dapat menerapkan pertanian tanpa bakar atau insentif tertentu," katanya.

Halaman
12
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help