Setor Uang Rp 225 Juta ke Rekening Gaib, Korban Penipuan dan Keluarganya Terpaksa Tidur di Bak Truk

Korban penipuan bermodus penggandaan uang itu kini harus rela tidur di bak truk karena tidak lagi memiliki tempat tinggal.

Setor Uang Rp 225 Juta ke Rekening Gaib, Korban Penipuan dan Keluarganya Terpaksa Tidur di Bak Truk
Istimewa
Kholis (39), warga Desa S‎ikasur Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang ditangkap Unit Reskrim Polsek Adiwerna dan Satreskrim Polres Tegal karena melakukan penipuan dengan modus penggandaan uang atau uang gaib. 

TRIBUNNEWS.COM, SLAWI - Satu di antara korban penipuan bermodus penggandaan uang melalui rekening gaib di Kabupaten Tegal mengalami nasib miris hingga jatuh miskin.

Pasalnya, korban yang merupakan warga Desa Pener, Kecamatan ‎Pangkah itu kini harus rela tidur di bak truk karena tidak lagi memiliki tempat tinggal.

Berdasarkan hasil penyidikan tim Unit Reskrim Polsek Adiwerna, korban tersebut bersama istri dan dua anaknya tinggal di bak truk, samping terowongan tol, Kecamatan Adiwerna, Jalur Dua Tegal - Slawi.

‎Kanit Reskrim Polsek Adiwerna Aiptu Ardiyanto SH mengungkapkan, sejauh ini, tujuh warga di Kabupaten Tegal dan Kota Tegal menjadi korban penipuan rekening ghoib yang dilakukan oleh Kholis‎ (38), warga Desa Sikasur Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang.

Saking lihainya, kata Ardiyanto, pria lulusan SD itu dalam melancarkan aksi tipu-tipu, salah satu korban sampai rela menjual seluruh harta bendanya.

"Yang Kabupaten Tegal tiga orang warga Kecamatan Adiwerna dan dua warga Kecamatan Pangkah. Para korban ini bapak-bapak semua. Kemudian, ada juga yang dari Kota Tegal," ungkap Aiptu Ardiyanto kepada Tribunjateng.com, Kamis (14/2/2019).

Ardiyanto juga mengungkapkan bahwa korban yang mengalami nasib miris itu menyetorkan uang kepada tersangka hingga mencapai Rp 225 juta.

Menurut dia, korban itu tergiur dan percaya dengan janji tersangka bisa mencairkan uang dari rekening gaib.

Kini nasibnya, korban yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut material dan mengontrak rumah di Desa Pesalakan Kecamatan Adiwerna tersebut jatuh miskin karena seluruh harta miliknya sudah dijual demi bisa menyetorkan uang kepada tersangka.

"Korban ini yang setor paling banyak, sampai Rp 225 juta. Uangnya dari hasil jual tanah dan jual rumah. Sekarang sudah tidak punya apa-apa. Sudah tidak bisa ngontrak rumah karena tak ada duit. ‎Tidurnya di truk," ungkapnya.

Halaman
1234
Editor: Dewi Agustina
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved