Home »

Sains

Walhi Sulbar: Ular Piton Menyerang Karena Ekologinya Rusak

Memusnahkan piton hanya akan mengganggu sistem mata rantai kehidupan yang menjadi satu kesatuan.

Walhi Sulbar: Ular Piton Menyerang Karena Ekologinya Rusak
Kompas.com/Abdul Haq
Puluhan warga di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, ikut menangkap ular piton sepanjang delapan meter di dekat kandang ternak sapi milik warga, Selasa (19/7/2016). 

TRIBUNNEWS.COM, MAMUJU TENGAH - Peristiwa tewasnya Akbar Ramli (25), petani sawit asal Desa Salubiru, Kecamatan Karossa, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, akibat ditelan ular piton sepanjang 7 meter pada Minggu lalu menarik perhatian aktivis lingkungan.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulbar, Ikhsan Willy memandang, perilaku ular piton yang garang dan tiba-tiba menyerang dan menelan Akbar saat tengah memanen sawit terjadi karena sistem ekologi di daerah tersebut telah rusak.

Menurut Ikhsan, binatang mamalia yang sejatinya bisa dijinakkan mendadak menjadi ganas dan menyerang manusia. Hal itu karena habitatnya sedang terganggu atau terancam.

“Karena ekosistem terganggu, maka ular itu kehabisan makanan, akhirnya manusia pun jadi korbannya,” kata Ikhsan dalam sebuah acara diskusi bertema “Mengapa Phyton Memangsa Manusia” yang digagas AJI Kota Mandar di Warkop Kafe Daeng, Kota Majene, Sulawesi Barat, Kamis (30/3/2017) kemarin.

Untuk menghindari binatang buas ini memangsa korban berikutnya, Ikhsan meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan Kabupaten Mamuju Tengah sudah harus mulai memikirkan penangkaran binatang.

Menghabisi kawanan ular piton seperti harapan warga dan keluarga korban, menurut Ikhsan, adalah langkah yang tidak tepat.

Alasannya, ular piton adalah salah satu bagian dari satu siklus kehidupan di alam.

Memusnahkan piton hanya akan mengganggu sistem mata rantai kehidupan yang menjadi satu kesatuan.

“Kalau perlu pemerintah membangun kebun binatang, paling tidak ada penangkaran binatang lah,” terang Willy.

Sari Rahayu Rahman, ahli ekologi yang juga ketua jurusan Biologi Universitas Sulawesi Barat menilai, pada hakikatnya, ular piton bukanlah binatang pemangsa manusia. Namun ketika berhadapan dengan situasi yang sulit, yakni kehidupan mereka terancam, maka ular piton bisa mendadak menjadi ganas dan menyerang seperti yang menimpa Akbar.

“Sebenaranya ular piton ini makhluk yang pemalu, mungkin karena terganggu ia berubah jadi pemangsa yang garang,” jelas Sari.

Menurut Sari, binatang melata seperti ular piton itu hanya memiliki dua persen naluri memangsa. Bahkan, kata dia, ular piton bisa dibuat menjadi jinak.

Penulis: Junaedi

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help