Home »

Sains

Ini Aspek Psikologi Kaum yang Percayai Teori Bumi Datar

Walaupun teori mereka terdengar mustahil di telinga dan kepala Anda, tetapi kepercayaan kaum bumi datar bukanlah sesuatu yang mengejutkan

Ini Aspek Psikologi Kaum yang Percayai Teori Bumi Datar
IST
Peta Bumi jika digambarkan sebagai obyek yang datar 

TRIBUNNEWS.COM - Jika berada di kubu bumi bulat, maka Anda pasti pernah merasakan frustrasinya berdebat dengan seseorang dari kubu bumi datar. Apa pun sanggahan yang Anda lontarkan dianggapnya sebagai bagian dari konspirasi NASA.

Di abad ke-21 ini, apakah dia dan kubu bumi datar lainnya benar-benar serius mempercayai teori tersebut? Bila demikian, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Walaupun teori mereka terdengar mustahil di telinga dan kepala Anda, tetapi kepercayaan kaum bumi datar bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi pakar psikologi seperti Karen Douglas.

Psikolog dari University of Kent, Britania Raya, yang mempelajaripsikologi dari teori konspirasi ini berkata bahwa kepercayaan kaumbumi datar mengikuti teori konspirasi lain yang telah dia pelajari.

Dikutip dari Live Science 30 Mei 2017, Douglas mengatakan, menurutku, orang-orang ini benar-benar percaya bahwa bumi berbentuk datar. Aku tidak melihat tanda-tanda bahwa mereka membuat-buat ide tersebut untuk alasan lainnya.

Douglas lalu menjelaskan bahwa secara umum, teori konspirasi memiliki dua karakteristik yang sama. Pertama, mereka adalah teori alternatif mengenai sebuah kejadian atau masalah serius.

Kedua, mereka biasanya memberikan semacam penjelasan mengapa kebenaran dari kejadian atau masalah tersebut harus ditutupi.

“Salah satu daya tarik dari teori konspirasi adalah kemampuan untuk menjelaskan sebuah kejadian besar tanpa perlu detail-detail yang lengkap. Kekuatannya justru berada pada fakta bahwa teori-teori ini tidak memiliki kejelasan yang pasti,” ucapnya.

Namun, kegigihan dan kepercayaan diri para kaum bumi datar dalam berargumen membuat teori mereka lebih menarik daripada yang seharusnya.

“Jika Anda dihadapkan dengan pandangan minoritas yang diungkapkan dengan cara yang cerdas dan sang pembicara memiliki opini yang sangat kuat, maka teori tersebut bisa menjadi sangat berpengaruh. Para psikolog menyebut hal ini sebagai pengaruh minoritas,” ujar Douglas.

Halaman
12
Editor: Fajar Anjungroso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help