Home »

Sains

Kabar Baik! Kini Limbah Plastik Bisa Digunakan Untuk Bangun Jalan Raya

Setiap 1 kilometer jalan dengan lebar 7 meter, membutuhkan campuran limbah plastik sebanyak 2,5 hingga 5 ton.

Kabar Baik! Kini Limbah Plastik Bisa Digunakan Untuk Bangun Jalan Raya - pemanfaatan-sampah-limbah-plastik_20170731_181328.jpg
dok. Kementerian PUPR
Proses pembuatan jalan yang menggunakan sampah limbah plastik.
Kabar Baik! Kini Limbah Plastik Bisa Digunakan Untuk Bangun Jalan Raya - pemanfaatan-sampah-limbah-plastik_20170731_181448.jpg
dok. Kementerian PUPR
Proses pembuatan jalan yang menggunakan sampah limbah plastik.
Kabar Baik! Kini Limbah Plastik Bisa Digunakan Untuk Bangun Jalan Raya - pemanfaatan-sampah-limbah-plastik_20170731_181412.jpg
dok. Kementerian PUPR
Proses pembuatan jalan yang menggunakan sampah limbah plastik.
Kabar Baik! Kini Limbah Plastik Bisa Digunakan Untuk Bangun Jalan Raya - pemanfaatan-sampah-limbah-plastik_20170731_181449.jpg
dok. Kementerian PUPR
Hasil akhir pembuatan jalan yang menggunakan sampah limbah plastik.

Sejalan dengan ucapan Presiden Joko Widodo pada pertemuan G-20 tentang komitmen Indonesia mengurangi sampah plastik laut sebesar 70 persen hingga tahun 2025, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) saat ini tengah pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal.

Setelah melakukan penelitian pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal, para peneliti di Balitbang melaksanakan uji coba aspal plastik sepanjang 700 meter, di Universitas Udayana, Bali, Sabtu (29/7/2017).

Kepala Balitbang Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan pemanfaatan limbah plastik sebagai aspal merupakan salah satu solusi bagi permasalahan sampah plastik di Indonesia.

"Setiap 1 kilometer jalan dengan lebar 7 meter, membutuhkan campuran limbah plastik sebanyak 2,5 hingga 5 ton. Jadi bisa dibayangkan apabila hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan di Indonesia yang memiliki jalan ribuan kilometer," tutur Danis yang ditemui di lokasi pengujian.

Jumlah sampah plastik di Indonesia tahun 2019 diperkirakan mencapai 9,52  juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada. Dengan estimasi plastik yang digunakan 2,5-5 ton/km jalan, maka limbah plastik dapat menyumbang kebutuhan jalan sepanjang 190.000 km.

Selain itu, aspal yang dihasilkan juga lebih lengket jika dibandingkan dengan aspal yang tidak menggunakan plastik sebagai campuran. Artinya, kata Danis, stabilitas aspal dan ketahanannya lebih baik.

"Stabilitasnya meningkat 40 persen, ini menjadikan kinerja lebih baik lagi," tambah Danis.

Setelah berhasil diujicoba di Universitas Udayana, selanjutnya pemanfaatan limbah plastik untuk aspal juga akan dilaksanakan pada jalan nasional di Jakarta, Bekasi dan Surabaya pada pertengahan Agustus tahun 2017.

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI (DKI Jakarta dan Jabar) dan BBPJN VII (Jawa Timur) saat ini tengah melakukan persiapannya sehingga dapat segera dilaksanakan.

Pemanfaatan limbah plastik sebagai aspal merupakan buah kerjasama antara Kementerian PUPR dan Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman.

"Untuk menyuplai kebutuhan limbah plastik sebagai aspal kami telah berkoordinasi dengan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) di 16 kota besar yang akan mengumpulkan dan memilah sampah," kata Deputi Bidang Koordinasi SDM, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Kemaritiman Safri Burhanuddin.

"Dalam upaya pengurangan sampah ini tahapan awalnya adalah melakukan edukasi kepada masyarakat, setelah terkumpul kami minta dukungan tim Kementerian PUPR. Pemanfaatan limbah plastik untuk aspal ini diharapkan dapat menjadi solusi yang tepat terhadap permasalahan sampah di Indonesia," tambah Safri.

Sedangkan mengenai pemilihan Universitas Udayana sebagai lokasi ujicoba pertama, Safri mengungkapkan bahwa lokasi tersebut akan dijadikan sebagai showcase pada Forum Pertemuan Tahunan World Bank dan IMF tahun 2018 mendatang terkait dengan solusi masalah limbah plastik.

Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana Ngakan Putu Sueca mengatakan pemilihan kampus Universitas Udayana sebagai laboratorium penelitian mahasiswanya merupakan hal yang positif.

"Ini merupakan sebuah wujud kerjasama yang baik antara peneliti, akademisi dan praktisi dalam mencari solusi masalah limbah plastik", tutur Sueca. (***)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help