Gara-gara Hobi Gigit Kuku, Wanita di Australia Terkena Penyakit Kanker Langka

Dokter mendiagnosis Whithorn dengan melanoma lentiginous acral. Itu merupakan bentuk kanker kulit yang berkembang di telapak tangan

Gara-gara Hobi Gigit Kuku, Wanita di Australia Terkena Penyakit Kanker Langka
intisari
iLUSTRASI. 

TRIBUNNEWS.COM - Siapa sangka kebiasaan kecil mengigit kuku bisa berujung penyakit berbahaya.

Setidaknya inilah yang diklaim oleh Courtney Whithorn, perempuan 20 tahun yang tinggal di Australia. Whithorn punya kebiasaan buruk menggigit kuku sepanjang waktu.

Baca: Pelatih Timnas Mauritius Waspadai Tiga Pilar Timnas Indonesia Ini

Baca: Singapura Kembalikan Dana Kasus 1MDB Senilai Rp 165,1 Miliar ke Malaysia

Dia bahkan seolah mengunyah ibu jarinya karena kukunya bisa dibilang habis. Kondisi jarinya tersebut bisa ditutupi oleh Whithorn di depan keluarga dan teman-temannya.

Hingga dia menyadari kukunya berubah menjadi hitam. Ketika memeriksakan diri, dokter menyarankan kepadanya untuk melakukan pencangkokan demi menghilangkan titik hitam itu.

Sayangnya, biopsi justru mengungkapkan bahwa dia mengalami kanker langka di bagian bawah kukunya.

Dokter mendiagnosis Whithorn dengan melanoma lentiginous acral. Itu merupakan bentuk kanker kulit yang berkembang di telapak tangan, telapak kaki, atau bagian bawah kuku.

Menurut Primary Care Dermatology Society, kondisi ini jarang terjadi di kalangan orang Kaukasia. Selain itu, Whithorn menjadi penderita yang jauh lebih muda dibanding penderita lain yang rata-rata berusia 40 tahun.

Karena jenis kanker ini sangat langka dan penyakitnya telah menyebar ke kelenjar getah bening, dokter menyarankan untuk amputasi.

Dirangkum dari The Sun, Kamis (06/09/2018), Whithorn menyebut kondisinya itu berhubungan dengan kebiasaannya menggigit kuku. Dia mengatakan, dokter percaya trauma dasar kuku kemungkinan besar yang menyebabkan kanker berkembang.

"Ketika saya mengetahui bahwa kebiasaan menggigit kuku saya adalah penyebab kanker itu menghancurkan saya," kata Whithorn.

Halaman
12
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved