Belum Ada Teknologi yang Bisa Ramalkan Gempa

Selama belum bisa diramalkan kapan terjadi, yang bisa dilakukan saat ini salah satunya adalah adalah mendelineasi sumber gempa

Belum Ada Teknologi yang Bisa Ramalkan Gempa
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Suasana dalam Lapas Klas IIA Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Pascagempa yang mengguncang Palu pada Jumat (28/9/2018) lalu, kondisi Lapas rusak berat dan tahanan banyak yang melarikan diri. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Bagian Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudy Suhendar mengatakan, hingga saat ini, belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan akan terjadi gempa bumi berikut magnitudonya.

Hal ini disebabkan sifat gempa yang datangnya tiba-tiba. Berbeda dengan tsunami yang bisa diprediksi dengan melihat ukuran gelombang laut.

"Hingga saat ini, yang dapat diprediksi adalah potensi maksimum magnitudo dan dampak intensitasnya," ujar Rudy di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Rudy mengatakan, di beberapa wilayah sudah tersebar peralatan pemantau guncangan. Sebab, semua wilayah sangat berpotensi mengalami gempa bumi. Dengan adanya alat pemantau itu, bisa dilihat bagaimana pergerakan tanah.

"Kalau tsunami bisa dibuat alatnya. Tapi gempa kan bisa tiba-tiba," kata Rudy.

Menurut Rudy, saat ini yang terpenting adalah bagaimana memitigasi atau mengurangi risiko bencana. Di sisi lain badan geologi terus berinovasi dengan teknologi canggih agar dapat mengantisipasi bencana sejak dini.

Selama belum bisa diramalkan kapan terjadi, yang bisa dilakukan saat ini salah satunya adalah adalah mendelineasi sumber gempa bumi. Kemudian, mengestimasi periode ulang gempa bumi. Di Palu, kata Rudy, gempa bumi beberapa waktu lalu bukan pertama kalinya terjadi.

"Secara geologis kita di wilayah Palu ada namanya patahan sehingga saat terjadinya pergeseran patahan menyebabkan adanya energi yg mengguncangkan yang menyebabkan gempa dari kuat sampai sangat kuat di wilayah sekitarnya," kata Rudy.

Hal lain yang harus dilakukan yakni menentukan parameter tiap sumber gempa bumi dan menghitung potensi maksimal gempa.

Rudy mengatakan, Badan Geologi Kementerian ESDM selalu melakukan mitigasi bencana dengan memetakan daertah yang pernah terjadi tsunami dan gempa dalam sebuah peta kerawanan.

Dia menekankan agar masyarakat selalu waspada dan mempersiapkan diri menghadapinya karena tidak dapat diperkirakan kapan gempa terjadi.
"DI manapun, wilayahnya harus nelakukan kewaspadaan dan siap siaga terhadap gempa dan tsunami," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Badan Geologi ESDM: Belum Ada Teknologi yang Bisa Ramalkan Gempa"

Editor: Sanusi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved