Penjelasan Pakar ITB Terkait Panasnya Pulau Jawa Sekarang Ini

Masyarakat kota-kota di Pulau Jawa mengeluhkan panasnya dan lambatnya kedatangan hujan, pada Oktober ini.

Penjelasan Pakar ITB Terkait Panasnya Pulau Jawa Sekarang Ini
Tribunnews
Alasan mengapa Jawa panas walau Oktober merupakan awal musim penghujan 

Pasalnya, jika energi matahari yang datang ke permukaan bumi sama dengan yang keluar, suhu permukaan bumi menjadi konstan atau tidak berubah.

Namun, ketika kita membangun aspal, gedung bertingkat, dan kaca di mana-mana, komposisi radiasi matahari di bumi pun berubah.

Energi yang datang menjadi semakin besar, sedangkan yang keluar menjadi semakin sedikit karena terhalang oleh gas-gas rumah kaca.

Fenomena ini disebut dengan istilah “Urban Heat Island” atau pulau panas perkotaan, yakni ketika sebuah wilayah metropolitan menjadi lebih hangat dari wilayah pedesaan di sekitarnya.

Dulu, pulau panas perkotaan hanya terjadi pada dua atau tiga kota di Jawa saja, tetapi kini hampir semua titik di Jawa berubah menjadi metropolitan sehingga panasnya merata.

“Kalau tidak mau (pulau panas perkotaan), ya jadikan saja semuanya hutan. Tapi, siapa yang mau tinggal di hutan? Siapa yang mau rumahnya dibongkar?” ujar Zadrach.

Tanpa upaya untuk mengatur manusianya, Zadrach berkata, menekan emisi CO2 sebagai cara untuk mengontrol perubahan iklim akan sia-sia.

Untuk kondisi populasi yang sudah terlanjur banyak ini, solusi yang disarankan oleh Zadrach adalah pengaturan pertumbuhan penduduk Indonesia yang baik, misalnya melalui program keluarga berencana atau KB.

Dengan demikian, kita juga bisa mengatur perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.

“Kalau jumlah penduduk meningkat terus, kita akan selalu membutuhkan perumahan, transportasi, dan jalan,” tutupnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Merasa Sekarang Jawa Panasnya Luar Biasa? Itu Salah Kita Semua"

Editor: sri juliati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved