Peneliti Ungkap Alam Liar di Bumi Menyusut Tinggal 23 Persen

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh University of Queensland mengungkapkan jika wilayah alam liar di Bumi semakin menyusut.

Peneliti Ungkap Alam Liar di Bumi Menyusut Tinggal 23 Persen
TRIBUN JABAR/BUKBIS CANDRA ISMET BEY
Seekor Owa atau Hylobates Moloch Jawa bertengger bersama anaknya di salah satu kandang di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa The Aspinall Foundation, kawasan hutan lindung Gunung Tikukur, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (31/12016). Berdasarkan data sensus terakhir pada 2013 diketahui bahwa populasi Owa Jawa di alam berkisar antara 2.140 sampai 5.310 ekor dengan tingkat ancaman kepunahan tinggi. Jumlah Owa Jawa terus berkurang tiap tahun akibat aktivitas perusakan hutan dan perburuan liar. Selain itu, sifat alamiah Owa Jawa yang bersifat monogami dan hanya melahirkan satu bayi tiap tiga tahun, makin mengancam keberadaanya. TRIBUN JABAR/BUKBIS CANDRA ISMET BEY 

TRIBUNNEWS.COM - Ada kabar yang kurang menyenangkan. Sebuah penelitian yang dipimpin oleh University of Queensland mengungkapkan jika wilayah alam liar di Bumi semakin menyusut.

Tim internasional baru-baru ini melakukan pemetaan sisa alam liar di dunia, dan salah satu peneliti, Profesor James Watson dari University of Queensland School of Earth and Environmental Sciences, berkata dia khawatir dengan hasilnya.

"Satu abad yang lalu, hanya 15 persen permukaan bumi yang digunakan oleh manusia untuk bercocok tanam dan memelihara ternak," katanya.

Sementara hari ini, lebih dari 77 persen daratan, tidak termasuk Antartika, dan 87 persen lautan tidak luput dari aktivitas manusia.

Ini memang sulit dipercaya, tetapi antara tahun 1993 sampai 2009, wilayah alam liar yang lebih besar dari India atau sekitar 3,3 juta kilometer persegi hilang karena digunakan untuk pemukiman, pertanian, pertambangan dan lain-lain.

Lalu, satu-satunya lautan yang bebas dari penangkapan industri serta polusi hanya terbatas pada wilayah kutub utara dan kutub selatan saja.

Baca: 5 Hutan yang Dianggap Menyeramkan di Dunia

Peneliti lain yang terlibat, James R Allan, ikut menambahkan jika alam liar yang tersisa di dunia hanya bisa dilindungi melalui kebijakan internasional.

"Beberapa kawasan alam liar dilindungi oleh undang-undang nasional, tetapi di sebagian besar negara, area ini tidak didefinisikan secara formal, dipetakan atau dilindungi," kata Allan.

Selain itu juga tidak ada yang bisa menjamin sebuah bangsa, industri, atau masyarakat untuk memperhitungkan konservasi jangka panjang.

"Untuk itu kami membutuhkan segera kebijakan global untuk pelestarian keanekaragaman hayati, untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya dan mencapai pembangunan berkelanjutan," tambah Allan.

Salah satu intervensi jelas yang dapat diprioritaskan oleh negara-negara ini adalah membangun kawasan lindung dengan cara-cara yang akan memperlambat dampak kegiatan industri pada lanskap atau laut yang lebih besar.

"Kami telah kehilangan begitu banyak, jadi kami harus menangkap peluang ini untuk mengamankan alam liar yang tersisa sebelum menghilang selamanya." Temuan ini diterbitkan di jurnal Nature.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kabar Buruk, Hanya Tersisa 23 Persen Alam Liar di Muka Bumi Ini".

Editor: Fajar Anjungroso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved