Riset Arief tentang Skema Artificial Intelegent (AI) yang Digunakan dalam Konsep Smart City

Arief Barkah, Pakar AI asal Indonesia mengeluarkan riset mengenai skema Artificial Intelegent (AI) dapat digunakan dalam konsep Smart City.

Riset Arief tentang Skema Artificial Intelegent (AI) yang Digunakan dalam Konsep Smart City
Istimewa
Arief Barkah, Pakar AI asal Indonesia yang mengeluarkan riset mengenai skema Artificial Intelegent (AI) dapat digunakan dalam konsep Smart City. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Arief Barkah, Pakar AI asal Indonesia mengeluarkan riset mengenai skema Artificial Intelegent (AI) dapat digunakan dalam konsep Smart City.

Arief, dalam risetnya, mencoba mendesign AI algorithms and systems yang mampu menampung dan memproses big data yang datang dari berbagai sumber dengan struktur yang berbeda yaitu data cuaca, data sensor dan data berupa natural language dari sosial media.

“Penduduk di Smart City juga menghasilkan data yang sangat besar (Big Data) dari penggunaan sosial media. Tidak jarang kita bisa melihat warganet melaporkan situasi di jalanan berupa kecemacetan, kecelakaan dan informasi-informasi mengenai kemacetan lainnya melalui sosial media,” kata Arief dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (5/3/2019) kemarin.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masuk dalam daftar predikat ‘Top 50 Smart City Government 2018’ dan meraih peringkat ke-47 Smart City Government dari 140 kota di dunia.

Baca: Di Aceh, ARBI akan Luruskan Isu Hoaks yang Serang Jokowi - Maruf Amin

Baca: Detik-detik Chef Juna Marah Pada Peserta Masterchef soal Sambal : Disini Bukan Saya yang Gila

Hal ini diimplementasikan melalui konsep Smart City di Jakarta yang dibuat berdasarkan enam pilar, yaitu Smart Governance, Smart People, Smart Living, Smart Mobility, Smart Economy, dan Smart Environment.

Baca: Niat dan Keutamaan Puasa Rajab 1440 H, Puasa yang Utama Setelah Ramadhan, Catat Waktunya

Konsep Smart Mobility menjadi hal yang paling penting saat penerapan Smart City. Dalam konsep ini, penerapan Artificial Intelegent (AI) sangat dibutuhkan. Apalagi, mobilitas masyarakat di Jakarta sangat tinggi.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan sistem AI ini juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan yang mungkin terjadi di Smart City, seperti bertambahnya jumlah pengemudi dan jumlah jalan. Sistem ini juga harus mampu memprediksi keadaan jalanan tidak hanya beberapa langkah di depan tapi juga memprediksi keadaan di masa depan.

“Kesimpulannya, output dari riset studi S3 saya berupa sistem yang cukup umum untuk diaplikasikan di kota-kota yang berbeda. Sistem ini akan sangat membantu penduduk di Smart City untuk kehidupan sehari2-hari mereka, dan membantu pemerintah untuk merencanakan pembangunan infrastruktur transportasi di kota tersebut. Yang penting,sistem ini akan sangat berguna untuk merealisasikan smart-smart yang lain untuk terciptanya Smart City,” jelasnya.

Arief saat ini bekerja sebagai Senior AI Scientist di General Motors Canada di bawah Departement Innovation and Advanced Technolgy. Advanced Technology adalah sebuah jembatan dari riset dan pengembangan menuju implementasi di produksi.

Kalau untuk riset dan pengembangan, lanjutnya, teknologi yang dikembangkan biasanya untuk 10-15 tahun kedepan, sedangkan advanced technology mengembangkan teknologi untuk 3-5 tahun kedepan.

“Saat ini saya bertanggung jawab untuk mengembangkan beberapa AI teknologi untuk efisiensi operasional dan beberapa fitur baru di mobil yang akan datang,” tegasnya 

Penulis: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved