Purba Negara Merasa Terhormat Film Ziarah Tampil di Festival Film Internasional Tokyo Jepang

Sutradara film Ziarah, B.W. Purba Negara, yang diputar filmnya minggu lalu di kancah TIFF merasa terhormat filmnya bisa diputar di TIFF.

Purba Negara Merasa Terhormat Film Ziarah Tampil di Festival Film Internasional Tokyo Jepang
Eiga
B.W. Purba Negara Sutradara (kiri) dan pemain film Ziarah, Rukman Rosadi (kanan) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sutradara film Ziarah, B.W. Purba Negara, yang diputar filmnya minggu lalu di kancah Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) merasa terhormat filmnya bisa diputar di TIFF.

"Saya merasa terhormat film bisa diputar di TIFF ini dan senang sekali bisa ke Jepang bersama-sama teman lainnya," kata Purba setelah pemutaran film Ziarah di Toho Roppongi Tokyo yang ditonton sekitar 100 orang.

Sedangkan seorang pemain filmnya Rukman Rosadi, menyatakan upayanya untuk melihat apa beda antara produksi film Indonesia dan Jepang selama ini.

"Saat tiba di Tokyo saya berusaha memikirkan apa beda produksi film antara Indonesia dan Jepang. Ternyata Tokyo memang kota yang sangat terorganisir dengan baik dan sangat indah," kata Rosadi.

Baca: Tak Ada Lagi Senyuman Surnah, Dia Meninggal Setelah Satu Bulan Bekerja

Pemain film Ziarah itu juga memperhatikan jalan raya di Tokyo serta pohon-pohonnya yang tertata dan terjaga, terawat dengan baik.

"Pemandangan sangat indah, pohon terawat dengan baik, bersih. Kalau saja pemandangan cantik itu muncul di film kita pasti akan lebih hebat lagi. Sedangkan dalam film ini kita sengaja menampilkan situasi kesepian dan bila di Tokyo mungkin kesepian itu tak terjadi lagi mungkin," kayanya yang disambut senyum penonton.

Ponco Sutiyem pemeran utama film dengan nama Mbah Sri (95) memberikan impresi sangat kuat bagi para penonton dengan karakter dan penampilannya yang baik.

"Tidak disangsikan lagi Mbah Sri memang memainkan filmnya dengan sangat baik karena punya pengalaman berakting di depan kamera. Karakter yang unik dan mungkin orang yang terbaik yang telah kami seleksi selama ini," kata sang sutradara.

Baca: Satu dari Lima Pekerja di Jepang Alami Masalah Ketidaksuburan

Film menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, namun juga menggunakan Bahasa Jawa yang tinggal di Pulau Jawa, populasi terbesar di Indonesia dan mengalami masa penjajahan Belanda.

"Karena pengambilan gambar di Jakarta Indonesia ya kita pakai Bahasa Indonesia dan saya sebenarnya ingin membuat film sesungguhnya dalam Bahasa Jawa karena kisah film di Jawa. Tapi kalau film dibuat di Jepang tentu saja akan dibuat dalam Bahasa Jepang," kata dia.

Film Ziarah dianggapnya film produksi independen yang menargetkan bisa diputar di bioskop besar di dunia dan tentu saja tak berkurang citra komersialnya bagi pasar dunia.

Dalam Film Ziarah tersebut Mbah Sri berusaha mencari suaminya ingin tahu apakah dia meninggal karena sebagai pahlawan atau sebagai penghianat penjajah Belanda.

Perjalanan mencari suaminya yang hilang dalam masa perang kemerdekaan itu mencitrakan Film Ziarah di mana Mbah Sri ingin sekali berbaring tidur selamanya di samping jasad suami yang dicintainya.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help