Fantasi Wiro Sableng, Tepis Ketakutan Lala Timothy Jadi Produser

Rasa takut sempat dirasakan Lala Timothy saat adik iparnya Vino G. Bastian menawarinya menjadi produser Film Wiro Sableng.

Fantasi Wiro Sableng, Tepis Ketakutan Lala Timothy Jadi Produser
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Produser Lifelike Pictures Sheila Timothy yang akrab disapa Lala Timothy ditemui wartawan pada acara peluncuran poster karakter film Wiro Sableng 212, di Jakarta, Selasa (13/2/2018). Kakak dari artis peran Marsha Timothy itu, bekerja sama dengan studio Hollywood Fox International Pictures membuat film pendekar ikonik Indonesia, Wiro Sableng 212, yang akan tayang pada September 2018 mendatang. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Gilang Syawal Ajiputra

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rasa takut sempat dirasakan Sheila alias Lala Timothy saat adik iparnya Vino G. Bastian menawarinya menjadi produser Film Wiro Sableng.

Ditemui saat XYZ Days 2018 di Senayan City, Jakarta, Rabu (25/4/2018), Lala Timothy, produser Wiro Sableng menceritakan alasannya mau menjadi produser film tersebut.

"Sebenernya tawaran tersebur datang dari adik ipar saya, Vino G. Bastian, yang sebenernya anak dari penulis buku silat Wiro Sableng, Almarhum Bastian Tito," kata Lala.

Lala juga mengatakan kalau dirinya sempat takut untuk menjadi produser Wiro Sableng.

"Awalnya saya ketika tahu soal Wiro Sableng, walaupun belum sempet baca bukunya waktu itu, agak sedikit takut untuk memproduseri film Wiro Sableng, karena saya tahu persis film ini adalah film action, yang membutuhkan banyak dana dan energi agar bisa menghasilkan film yang baik," ungkap kakak kandung Marsha Timothy itu.

Baca: Impian Raditya Dika Saat Pernikahannya, Ingin Jadi Orang Ganteng

Akhirnya, untuk mengantisipasi ketakutannya itu, Lala membentuk suatu tim yang khusus membahas Wiro Sableng hingga akhirnya ia tertarik dan optimis.

Lala pun jatuh cinta pada jalan ccrita Wiro Sableng yang fantasinya cukup memunculkan keberaniannya menjadi produser.

"Ketika saya bentuk satu tim, duduk bareng-bareng dan baca 185 buku tersebut, akhirnya saya jadi jatuh cinta pada ceritanya karena ceritanya sangat luar biasa menarik, karakter yang ada dalam buku sangat luar biasa, ditulis tahun 60 an, tapi fantasinya masih up to date sampe sekarang," ujar Lala.

"Menurut saya, ini adalah cerita fantasi yang kalo dibuat oleh tim yang sangat solid, akan jadi satu cerita yang sangat berakar budaya Indonesia tapi bisa diterima dengan baik oleh penonton," pungkasnya.

Penulis: Gilang Syawal Ajiputra
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved