Minggu, 21 Desember 2014
Tribunnews.com

Richard Mainaky Menangis Tontowi/Liliyana Gagal Perunggu

Sabtu, 4 Agustus 2012 16:15 WIB

Richard Mainaky Menangis Tontowi/Liliyana Gagal Perunggu
AFP/ADEK BERRY
Indonesia s Liliyana Natsir (R) plays a shot in front of teammate Ahmad Tontowi during the mixed doubles badminton match against Denmark s Thomas Laybourn and Kamila Rytter Juhl at the London 2012 Olympic Games in London on July 31, 2012. Indonesia won 24-22, 21-16. AFP PHOTO / ADEK BERRY

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Pelatih ganda campuran Richard Mainaky sempat menangis melihat kekalahan yang diderita anak didiknya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pada perebutan medali perunggu Olimpiade London 2012. Tontowi/Liliyana dikalahkan oleh pasangan Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, 12-21, 12-21.

Pasangan ganda campuran ini merupakan andalan Indonesia untuk mempertahankan tradisi medali emas di olimpiade. Setelah dipastikan gagal ke final dan peluang emas hilang, hari ini Tontowi/Liliyana ternyata juga belum berhasil mempersembahkan medali perunggu.

“Bukan soal kekalahannya, tetapi saya sedih melihat Tontowi yang tidak bisa keluar dari tekanan. Saya perhatikan Liliyana tidak ada masalah, tapi Tontowi yang tertekan sekali” ungkap Richard yang sempat meneteskan air mata.

Kondisi Tontowi yang tampil kurang baik dan membuat banyak kesalahan sendiri, sempat memaksa Richard memberikan teguran yang agak keras kepada Tontowi ketika pergantian gim kedua.

“Saya tadi sempat bilang kalau dia main begini, terlihat ketakutan, lebih baik tidak usah main. Dari sini dia sempat bangkit dan leading, tapi kemudian kembali lagi di bawah tekanan” tambah kakak kandung Rexy Mainaky ini.

Ia mengatakan bahwa Tontowi mulai merasakan ada yang berbedan dan tertekan saat babak perempat final, dimana mulai diberlakukan sistem gugur, yang artinya satu kali saja kalah maka mereka langsung tersingkir.

“Padahal Tontowi sudah merasa percaya diri sekali selama babak penyisihan, dia bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya” ujar Richard.

Richard menilai bahwa Tontowi belum bisa mengatasi tekanan di ajang sebesar olimpiade dan ke depannya masih harus banyak belajar lagi.

Baca juga:

Editor: Toni Bramantoro
Sumber: Kompas.com
BBC

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas