Kamis, 27 November 2014
Tribunnews.com

HAORNAS 2013: Olahraga Wujudkan Jati Diri Bangsa‏

Selasa, 3 September 2013 22:30 WIB

HAORNAS 2013: Olahraga Wujudkan Jati Diri Bangsa‏
www.kemenpora.go.id

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menjadikan perayaan peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-30 pada tahun 2013 sebagai momentum untuk mewujudkan jati diri bangsa.

Setiap tahunnya sejak tahun 1980, Haornas diperingati setiap tanggal 9 September. Pada peringatan tiga dasawarsa, puncak perayaan akan dipusatkan di Stadion Mandala Krida, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 18 Oktober mendatang.

“Sesuai tema Haornas, olahraga mewujudkan jati diri bangsa. Ini penting, karena banyak generasi muda kita seperti tidak terurus, karena memakai narkoba dan terlibat aksi tawuran,” kata Menpora Roy Suryo dalam jumpa pers di Gedung Kemenpora, Selasa (3/9/2013) malam.

Rencananya pada 18 Oktober di Stadion Mandala Krida akan dilakukan beberapa acara, salah satunya pemberian penghargaan olahraga 2013 yang langsung diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Penghargaan olahraga diberikan kepada atlet berprestasi pada 2013. Menurut Roy Suryo, pengumuman peraih penghargaan akan diumumkan di Gedung Kemenpora pada Senin (9/9/2013).

“Siapa yang mendapatkan penghargaan? Ada 7 orang yang rencananya akan mendapatkan. 4 atlet bulu tangkis, sementara sisanya atlet cabor yang lain. Sudah dipikirkan juga pemberian penghargaan Live Time Achievment kepada mantan atlet ataupun pelatih,” tuturnya.

Selepas acara di Stadion Mandala Krida, Presiden SBY dijadwalkan meresmikan monumen PSSI di lingkungan kantor Pengurus Provinsi PSSI DIY, kawasan Baciro, kota Yogyakarta. Saat ini monumen yang didirikan oleh Ketua Umum PSSI pertama kali, Ir. Soeratin Sosrosoegondo pada 19 April 1930 silam itu dalam tahap revitalisasi.

Momentum peringatan Haornas pun dijadikan sebagai sarana untuk mengangkat olahraga tradisional ke tingkat nasional. Salah satu kegiatan yang telah dilakukan oleh Kemenpora, yaitu lomba panahan tradisional atau Jemparingan pada 1 September kemarin. Pada penyelenggaraan di Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Jemparingan berhasil memecahkan rekor MURI.

Jemparingan berbeda dengan olahraga panahan pada umumnya, sebab para pemanah mengenakan pakaian adat berupa baju Sorjan lengkap dengan blangkon di kepala. Jemparingan tidak dilakukan dengan berdiri melainkan dengan posisi duduk bersila. Sementara, sasaran tembak Jemparingan juga bukan pada tengah lingkaran, melainkan orang-orangan sawah yang disebut Bandulan.

“Kita jangan mengkerdilkan olahraga tradisional. Seharusnya itu diangkat ke level nasional, kalau bisa dimainkan di level SEA Games seperti olahraga Vovinam, Muay Thai atau Petanque. Selain Jemparingan, masih banyak yang bisa dikedepankan seperti Lompat Batu (di Pulau Nias), Pacuan kuda (di NTB), dan olahraga tradisional lainnya,” tambahnya.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Toni Bramantoro
BBC

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas