Home »

Techno

»

News

Pakar Komputer Sebut Kejahatan Siber Dana Perbankan Masih Marak

Namun, keduanya tidak dapat melakukan tindakan lebih selain membuat sistem yang aman bagi nasabah.

Pakar Komputer Sebut Kejahatan Siber Dana Perbankan Masih Marak
Istimewa
Para pakar teknologi informasi dari Universitas Gunadarma berkumpul membahas tren terkini di dunia siber. Dari kiri ke kanan: Psikolog Matrissya Hermita, Pakar Vision Robotik Ruddy J Suhatril, Forensik Digital Ruby Alamsyah, Pakar Hukum Internet Edmon Makarim. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pakar Komputer Forensik dari Universitas Gunadarma Ruby Alamsyah menyebut, kejahatan siber yang mengincar dana nasabah di perbankan masih marak dilakukan tahun ini. Bahkan, pelaku semakin pintar dalam mengeruk dana nasabah.

"Ada peningkatan modus, maksudnya modusnya diubah sedikit," ucap Ruby dalam seminar bertajuk 'Indonesia dan Ancaman Siber yang Merajalela' di Kampus Universitas Gunadarma, Jl TB Simatupang, Jakarta.

Ia menjelaskan, jumlah dana yang diambil oleh pelaku kejahatan sekitar Rp100 juta per harinya. Menurut Ruby, pelaku kejahatan siber semakin memahami keamanan di perbankan yang diatur oleh regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bank Indonesia (BI). Menurut Ruby, pelaku kejahatan ini merupakan orang asing yang berasal dari Rusia.

"Ini background nya Rusia, dari 2009-2010 hacker Rusia selalu menargetkan negara berkembang seperti ini," katanya.

Ia menjelaskan, teknis pengambilan dana nasabah dilakukan melalui internet banking. Pelaku telah memantau rutinitas transaksi dari pemilik rekening, kemudian saat nasabah melakukan transaksi tujuan pengiriman dan jumlah transaksi akan diubah oleh pelaku.

Untuk mengatasi hal ini, Ruby sendiri telah melakukan diskusi dengan BI dan OJK. Namun, keduanya tidak dapat melakukan tindakan lebih selain membuat sistem yang aman bagi nasabah.

"Mereka regulator keuangan, kendala mereka harus mempunyai siber security," katanya.

Lebih Gawat Dibanding WannaCry

Kasus ransomware WannaCry memang sempat bikin heboh. Namun dari sisi nilai kerugian, ternyata ada kasus siber lainnya yang jauh lebih menakutkan dan bikin korbannya yang mayoritas ibu-ibu muda.

"Nilai tebusan yang dihasilkan ransomware cuma Rp 600 juta saja, itu pun di seluruh dunia, bukan cuma di Indonesia. Angkanya masih jauh lebih besar kasus Nigerian Scam," ungkap Ruby

Halaman
12
Penulis: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help