Tour de Java

Ketika Curhat Lewat Dongeng

Rabbit Hole, yang merupakan sarana pembuat buku anak dengan konsep lebih modern, diharapakan menjadi solusi bagi orangtua agar dapat berkomunikasi

Ketika Curhat Lewat Dongeng
Pendiri Rabbit Hole Devi Raissa Rahmawati 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komunikasi yang baik antara orangtua dan anak termasuk unsur penting untuk menjaga keharmonisan dalam sebuah keluarga. Rabbit Hole, yang merupakan sarana pembuat buku anak dengan konsep lebih modern, diharapakan menjadi solusi bagi orangtua agar dapat berkomunikasi dengan anak lewat mendongeng.

"Melalui pengalaman dari klien juga, saya bacain buku cerita, ternyata anak bisa omongin masalah mereka," ujar pendiri Rabbit Hole, Devi Raissa Rahmawati saat ditemui di perpustakaan Rabbit Hole, jalan Bangka Raya No. 53B, Mampang, Jakarta Selatan.

"Dari situ saya pikir komunikasi orangtua dan anak bisa terjalin dengan baca buku. Minimal lima menit saja dalam sehari," sambungnya.

Menurut Devi konsep buku Rabbit Hole berbeda dari buku kebanyakan. Buku Rabbit Hole ini dibuat lebih modern dengan konsep 3D atau pop art. Konsep ini membuat anak menjadi lebih tertarik untuk membaca.

Tidak hanya itu, buku tersebut juga sengaja dibuat lebih interaktif. Orangtua tidak merasa bingung untuk bisa berkomunikasi dan bercerita dari buku tersebut.

"Jadi buku ini sengaja dibuat interaktif dan di buku ini ada pertanyaannya untuk diberikan orangtua kepada anak. Jadi secara tidak langsung buku ini mengajak orangtua untuk bisa membacakan dongeng kepada anak," katanya.

Perempuan kelahiran Malang, 2 Desember 1987 itu memproduksi buku-buku Rabbit Hole dengan ide kreatifnya sendiri. Pembuatan buku dilakukan rekan kerjanya bernama Guntur.

Devi menceritakan semula kesulitan untuk membuat buku dengan konsep pop art. Beberapa percetakan tidak mampu mengerjakan buku yang sesuai keingginannya. Ia akhirnya bersama Guntur membuat buku Rabbit Hole yang diproduksi secara massal dan dikerjakan langsung di perpustakaan Rabbit Hole selama kurang lebih tiga bulan.

"Kalau di luar negeri ada paper engenering. Kalau di sini ternyata belum ada. Akhirnya Guntur yang coba sendiri bikin pop art-nya. Dari segi kertas, kita ingin yang tebal, tapi sewaktu ke percetakan, mereka tidak bisa," tutur perempuan berhijab itu.

Rabbit Hole yang telah berdiri sejak tahun 2013 ini telah memproduksi beberapa koleksi buku untuk anak-anak. Mulai dari 'Liburan Terbaik', 'Kisah Pedagang & Tabib', 'Cilukba', 'Suara Apa Itu', 'Asal Mula Namaku', dan beberapa buku lainnya. Rabbit Hole juga sedang memproduksi buku terbaru, yakni buku Emosi. Menurut Devi, buku tersebut nantinya akan mengenalkan jenis-jenis emosi pada anak.

Selain dalam bentuk buku fisik, Rabbit Hole juga telah memiliki sebuah buku digital yakni, 'Bella & Balon Merah'. Buku ini dapat diunduh khusus untuk pengguna IOS.

Perempuan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu mengatakan penjualan buku Rabbit Hole saat ini baru bisa dilakukan melalui online. Orangtua dapat menghubungi Rabbit Hole lewat Line atau Instagram @rabbitholeid dan bisa juga langsung mengunjungi laman www.rabbitholeid.com.

"Kalau sekarang jumlah pesanan rata-rata 1500 buku per bulan. Harganya mulai dari Rp 24 ribu sampai Rp 110 ribu. Nanti langsung dikirim," kata Devi.

Devi berharap, dengan adanya konsep baru dalam membaca sebuah buku, semakin banyak orangtua yang sadar pentingnya membacakan dongeng. Menurut Devi, kegiatan ini sangat penting untuk menjalin komunikasi dengan anak.

"Semog semakin banyak anak yang baca buku dan orangtua yang membacakan buku. Membaca buku menciptakan ikatan antara orangtua dan anak," ujar Devi.

Penulis: Achmad Rafiq
Editor: Ade Mayasanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved