Wisata Yogyakarta

Sungai Progo di Sleman yang Dulu Dianggap Angker dan Keramat Kini Jadi Lokasi Rafting

Sungai Progo di Sleman yang dulu dianggap keramat dan angker kini berubah jadi lokasi arung jeram favorit kawula muda.

Sungai Progo di Sleman yang Dulu Dianggap Angker dan Keramat Kini Jadi Lokasi Rafting
TRIBUN JOGJA/ HAMIM THOHARI
Sungai Progo di Sleman yang dulu dianggap keramat dan angker kini berubah jadi lokasi arung jeram favorit kawula muda. (TRIBUN JOGJA/ HAMIM THOHARI) 

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Dari sekian banyak wisata ekstrim, mungkin rafting adalah yang paling banyak penggemarnya. Sensasi mengarungi sungai berarus deras mampu memacu adrenalin siapa pun yang mencobanya.

Yogyakarta yang selama ini menjadikan wisata sebagai salah satu sektor andalannya malah belum memiliki wahana rafting. Para wisatawan yang ingin melakukan rafting, destinasi terdekat dari Yogyakarta adalah sungai Elo yang berada di kabupaten Magelang.

Tetapi sejak awal Juni 2016 ini Yogyakarta sudah memiliki wahana rafting. Adalah Cahyo Alkantana, pelaku wisata ekstrim yang sebelumnya mengelola obyek wisata Gua Jomblang yang berinisiatif mendirikan operator rafting bernama TOP Rafting.

Cahyo Alkantana memilih sungai Progo sebagai lokasi raftingnya.

"Meski sungai Progo dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat yang keramat dan angker, tetapi hal tersebut tidak menghalangi kami mengembangkannya menjadi obyek wisata yang menarik," ujarnya.


Titik start rafting Sungai Progo di Sleman. (TRIBUN JOGJA/ HAMIM THOHARI)

Meski tidak populer sebagai tempat rafting, tetapi sungai ini sebenarnya telah cukup sering ditaklukan oleh mereka para penggemar rafting. Dibandingkan dengan sungai-sungai di wilayah Jawa, Progo adalah salah satu yang paling menantang.

Dikatakan Cahyo, sungai Progo memiliki jeram dari kelas III sampai V (dari enam kelas jeram yang ada), khususnya di penggal bendungan Ancol Bligo, hingga jembatan Dekso.

"Meskipun memiliki jeram hingga kelas V tetapi jalur ini aman diarungi karena penggunaan dayung oars," ungkap Cahyo. Dayung oars sendiri adalah dua buah dayung panjang yang digunakan oleh pemandu arung jeram yang berada di bagian belakang kapal.

Dayung yang memiliki panjang masing-masing 2,5 meter tersebut memudahkan pemandu untuk mengarahkan kapal karet. Tidak semua sungai di Indonesia bisa menggunakan oars untuk arung jeram.

Halaman
12
Editor: Agung Budi Santoso
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved