Gunung Hua, Trek Pendakian Tergila di Dunia! Papan Kayu Tanpa Pagar, Siap Bikin Deg-deg Ser

Bagi kamu yang senang dengan sensasi ekstrem dan mendebarkan, wajib banget berkunjung ke sebuah gunung di Tiongkok, yaitu Gunung Hua, Jumat (10/3/2017

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Bagi kamu yang senang dengan sensasi ekstrem dan mendebarkan, wajib banget berkunjung ke sebuah gunung di Tiongkok, yaitu Gunung Hua, Jumat (10/3/2017).

Ada sensasi ekstrem tak terlupakan yang ditawarkan gunung ini, guys.

Ketika mendaki Gunung Hua, traveler perlu melewati sebuah trek yang dibuat dari papan kayu dengan ketinggian mencapai 2.154 meter.

Jalur ini disebut paling mengerikan karena nggak ada pagar pembatasnya dengan tebing dan hanya muat untuk satu orang, guys.

So, kamu nggak bisa berjajar dua orang untuk mendaki gunung ini.

Papan kayu ini sering disebut Changong Zhandao dan panjangnya sekitar 100 meter dan diikatkan di tebing gunung.

Changong Zhandao disebut sudah dibangun sejak 700 tahun yang lalu oleh seorang biarawan dari Dinasti Yuan.

Dilansir Dailymail, seorang master kungfu yang bernama Zhizhen, datang ke Gunung Hua, ia berharap untuk menemukan tempat yang tenang dan terpencil untuk berlatih meditasi.

Bagi para pencari sensasi ekstrem, mendaki gunung ini tentu saja menjadi kesempatan yang sayang banget dilewatkan.

Trek kayu ini menjadi jalan setapak paling populer di Gunung Hua dan menerima wisata pemberani dari seluruh dunia.

Nah, ngomongin tentang Gunung Hua, tempat ini dianggap sebagai gunung yang paling suci di Tiongkok dan tentu saja yang paling berbahaya, loh.

Untuk melewati trek tergila ini, traveler wajib banget berjalan setapak demi setapak.

Tentu saja kamu juga harus berhati-hati dengan berpegangan pada kawat zip sebagai keamanan.
Para pendaki juga dianjurkan untuk membawa peralatan harness sendiri karena tidak ada pagar pengamannya.

Bila ingin mencoba trek ekstrem ini, siapkan dana 30 yuan atau setara Rp 58 ribu.
Tertarik mencoba trek mendebarkan ini?

Penasaran? simak video di atas.(TribunTravel.com/Novita Shinta)

Editor: Samuel Febrianto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help