Kesan Penumpang yang Naik Kereta Api Wisata Priority

Dalam perjalanan perdananya, kereta tersebut terisi penuh, membawa 60 orang penumpang tujuan Yogyakarta, dan 30 orang tujuan Solo.

Kesan Penumpang yang Naik Kereta Api Wisata Priority
(KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI)
Suasana di dalam gerbong kereta api wisata priority saat perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta, Jumat (4/8/2017). Kereta wisata kelas priority ini memiliki fasilitas antara lain Audio Visual On Demain (AVOD) di setiap kursi penumpang, Mini Bar, TV 52 Inch, Crew Khusus, toilet khusus dan kursi yang lebih nyaman dari kelas eksekutif. Harga tiket mulai Rp 750.000 sudah termasuk jasa restorasi 1x makan dan minum. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kereta Api Wisata Priority, yang digadang-gadang sebagai kereta dengan pelayanan terbaik yang bisa dipesan perorangan, telah melakukan perjalanan pertamanya pada Jumat (4/8/2017), dari Jakarta dengan tujuan Yogyakarta dan Solo.

Dalam perjalanan perdananya, kereta tersebut terisi penuh, membawa 60 orang penumpang tujuan Yogyakarta, dan 30 orang tujuan Solo.

Beragam pendapat tercurah dari para penumpang tersebut, setelah pertama kali merasakan kereta dengan pelayanan prioritas kelas tamu kepresidenan itu.

KompasTravel pun mengumpulkan ragam kesan hingga masukan dari para penumpang untuk kereta Wisata Priority.

Salah satu penumpang bernama Adnan (26) mengaku pada awalnya terpaksa membeli karena kehabisan tiket menuju Yogyakarta, sedangkan ia harus bekerja.

Namun, saat ditanya kesannya, ia mengatakan akan menggunakan kereta ini lagi untuk keberangkatan-keberangkatan selanjutnya.

"Untungnya memuaskan. Saya lihat dari suasana, pelayanan, dan fasilitasnya. Ketiganya terasa beda, dari kereta eksekutif biasa, lebih ramah seperti keluarga," ujarnya saat keberangkatan menuju Yogyakarta, Jumat (4/8/2017). 

Sementara Dwi Purnomo (33), rekan satu kerjanya mengeluhkan kurangnya fasilitas wifi untuk jaringan internet. Mengingat Dwi bekerja sebagai IT developer yang dituntut bekerja menggunakan jaringan internet di manapun dan kapan pun.

Sedangkan Hamid (55), yang merupakan dosen senior salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Depok mengaku bangga PT KAI punya pilihan beragam kereta bagi para penggunanya. Ia mengusulkan alangkah lebih baik jika disediakan pilihan tempat penumpang berbentuk kasur, menjadi sleeper train.

Hamid membandingkan dengan negara-negara lain yang sudah lama memulainya, seperti rute Singapura-Kuala Lumpur dan Berlin-Amsterdam yang pernah ia naiki. Menurutnya negara tetangga sudah memulainya dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang relatif lebih murah.

Halaman
12
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help