Kepercayaan Masyarakat Kembali Tumbuh, Jelajah Menara Bikin Skema Menarik Travel Umroh

Namun setelah pemerintah menindak tegas travel-travel nakal yang berkedok penipuan kini bisnis travel umroh kembali menggeliat.

Kepercayaan Masyarakat Kembali Tumbuh, Jelajah Menara Bikin Skema Menarik Travel Umroh
Istimewa
Rombongan Jamaah Umroh Jelajah Menara di Tanah Suci 

TRIBUNNEWS.COM, MALANG - Kepercayaan masyarakat terhadap travel-treavel biro perjalanan ibadah umroh sempat menurun akibat maraknya aksi penipuan.

Namun setelah pemerintah menindak tegas travel-travel nakal yang berkedok penipuan kini bisnis travel umroh kembali menggeliat.

Hal ini diakui oleh Marketing Jelajah Menara, Edwin Ashari salah satu travel haji dan umroh yang berbasis di Pasuruan, Jawa Timur.

"Tindakan tegas yang dilakukan pemerintah terhadap para pemilik travel umroh nakal kini sudah mulai terasa dampaknya. Travel umroh yang benar-benar baik kini sudah mulai kembali mendapatkan kepercayaan," kata Edwin.

Rombongan Jamaah Umroh Jelajah Menara di Tanah Suci
Rombongan Jamaah Umroh Jelajah Menara di Tanah Suci (Istimewa)

Jelajah Menara menurut Edwin dalam satu bulan ini memberangkatkan 100 orang jamaah. "Pesanan terus ada dan kita mengatur jadwalnya dengan rapi," katanya.

Dijelaskan Edwin, Jelajah Menara menerapkan sistem pembayaran yang unik bagi para jamaah yang ingin menunaikan ibadah ke tanah suci.

Para calon jamaah hanya membayar uang muka sebesar 5 juta rupiah lalu sisanya bisa dicicil setelah pulang dari umroh.

"Sistemnya nyicil dengan menggunakan sistem murabbahah (jual beli). Kita bekerjasama dengan Amitra Syariah Group dari FIF untuk menghindari adanya praktek riba," katanya.

Edwin melanjutkan Jelajah Menara sangat berhati-hati "Sistem pembayaran cicilan di kami tidak berbunga, tanpa jaminan dan pastinya ini bukan multilevel marketing (MLM)," kata Edwin.

Soal produk umrohnya, Jelalah Menara menyediakan dua paket, paket umroh 9 hari dan 15 hari dengan harga mulai dari 24 juta rupiah dan berbeda-beda sesuai dengan bintangnya.

Penulis: Husein Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help