Menilik Asal-usul Jalur Mudik Pantura, Saksi Bisu Kekejaman Daendels

Jalur Pantai Utara atau yang disingkat Pantura selama ini memang menjadi jalur favorit para pemudik dari ibu kota.

Menilik Asal-usul Jalur Mudik Pantura, Saksi Bisu Kekejaman Daendels
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah kendaraan pemudik mengantre untuk keluar dari ruas Tol Batang-Semarang menuju jalur Pantura Batang-Kendal di Kalikuto, Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (11/6/2018). Antrean panjang kendaraan bermotor terjadi di ujung Exit Tol fungsional Batang-Gringsing karena terdapat penyempitan jalur di ujung tol fungsional di jembatan yang masih dalam proses pembangunan itu. Kendaraan yang keluar dari tol fungsional Batang-Semarang itu kemudian dikeluarkan menuju jalur pantura sebelum nantinya kembali masuk ke exit Tol Weleri. 

TRIBUNNEWS.COM - Jalur Pantai Utara atau yang disingkat Pantura selama ini memang menjadi jalur favorit para pemudik dari ibu kota menuju kampung halaman di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Jalur Pantura merupakan sisa peninggalan penjajahan Belanda yang sudah ada sejak jaman pemerintahan Herman William Daendels yang selesai pada 1811.

Jalur Pantura dulunya dinamai dengan Grote Postweg (Jalan Raya Pos) atau yang populer dengan sebutan Jalan Daendels.

Panjang jalan di sisi utara Jawa ini jika dihitung dari Anyer yang berada di ujung barat hingga Panarukan di ujung timur mencapai kurang lebih 1000 kilometer.

Tak heran jika Pantura menjadi jalan terpanjang di dunia saat itu.

Sejarah mengenai Jalur Pantura memang belum banyak dikenal masyarakat, terutama para pemudik yang melintasi jalur ini.

Awal mulanya Jalur Pantura dibangun untuk melindungi kekuasaan Prancis dan Inggris.

Pembangunan Jalur Pantura ini pun dilakukan dalam dua tahapan.

Tahapan pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia (Jakarta) hingga Banten pada 1808.

HALAMAN SELANJUTNYA >>>

Editor: Sinta Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved