Tribunners / Citizen Journalism

Mahasiswa IPB-UNRI dan RAPP Terapkan Biopori

Lubang biopori tersebut dapat berfungsi untuk memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah,

Laporan Manajer Media Relations PT RAPP, Nandik Sufaryono
TRIBUNNEWS.COM, PANGKALAN KERINCI
- Penggunaan air tanah yang tinggi serta berlebihan akan menyebabkan penurunan permukaan tanah serta mengakibatkan sulitnya untuk mendapatkan air berkualitas baik dan cukup di kawasan tersebut.

Untuk menghindari hal tersebut, perlu adanya gerakan pelestarian alam sekitar yang dilakukan secara bersama-sama oleh semua pihak serta berkesinambungan. "Satu caranya, dengan mencegah air hujan yang turun agar tidak langsung mengalir ke parit atau selokan yang kemudian terbuang percuma ke sungai dengan pembuatan Lubang Biopori Resapan atau biasa disebut Lubang Biopori," kata Satria Firman, mahasiswa jurusan Biologi Universitas Riau (UNRI).

Ia sedang melaksanakan Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama mahasiswa UNRI lainnya dan Kuliah Kerja Profesi (KKP) Institut Pertanian Bogor (IPB), kepada para petani lokal dan binaan CSR RAPP di Balai Pelatihan dan Pengembangan Usaha Terpadu (BPPUT) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Jumat (9/7/2010).

Program KKN-KKP ini diikuti 45 mahasiswa dari kedua perguruan tinggi tersebut, selama enam minggu hingga pertengahan Agustus nanti di Kabupaten Pelalawan, khususnya kecamatan Pangkalan Kerinci yang terbagi dalam beberapa wilayah kelurahan dan desa.

Menurut Satria, lubang biopori tersebut dapat berfungsi untuk memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah, mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit dan mengurangi air hujan yang terbuang percuma ke sungai atau laut. "Selain itu juga dapat meminimalisasi resiko banjir di musim hujan. Lubang biopori juga dapat dijadikan media membuat kompos alami dari sampah organik limbah rumah tangga dan makanan sisa daripada dibuang atau dibakar serta memaksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah," kata Satria.

Secara teknis, katanya, lubang biopori adalah lubang dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter dengan kedalaman rata rata satu meter. Kemudian lubang tersebut ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya. Sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan.

"Biasanya lokasi yang dapat dibuat lubang biopori pada alas saluran air hujan di sekitar rumah atau bangunan lainnya, di sekeliling pohon dan pada tanah kosong antar tanaman atau batas tanaman," kata Satria.

Selain menyampaikan materi tentang pembuatan Lubang Biopori, pada kesempatan tersebut juga disampaikan materi tentang pembuatan pupuk cair oleh Tri Mutia, mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian UNRI. Sri Ayu Lestari mahasiswi Ilmu Gizi IPB juga memberikan penyuluhan KADARZI (Keluarga Sadar Gizi).

Menurut Ayu, keluarga dapat dikatakan kadarzi bila bila makan beraneka ragam makanan, membiasakan makan pagi, selalu memantau kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarganya (menimbang berat badan), khususnya balita dan ibu hamil. Selain itu, biasa menggunakan garam beryodium dalam memasak dan memberi dukungan kepada ibu melahirkan agar memberikan ASI saja pada bayi sampai umur 4 bulan. "Bila salah satu perilaku belum dapat dilaksanakan, maka keluarga tersebut belum Kadarzi," ujar Ayu.

Prof DR drh Clara M Kusharto MSc yang didampingi DR Ir Ikeu Tansiha MS, dosen pemimbing sekaligus penanggung jawab program KKN-KKP UNRI-IPB ini secara terpisah menyampaikan, kegiatan KKN-KKP ini merupakan kerjasama Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, Universitas Riau dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan. Dalam pelaksanaan program di tengah tengah masyarakat, kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Pemkab Pelalawan dan CSR Department RAPP.

"Program ini sejatinya direncanakan selama tujuh minggu, dimana pada satu minggu pertama, sebelum terjun ke tengah masyarakat, seluruh mahasiswa melakukan lokakarya dan koordinasi program kerja bersama Pemkab Pelalawan dan diikuti juga oleh CSR RAPP," ujar Clara.

Diharapkan, ketika berada ditengah masyarakat program kerja mahasisa KKN-KKP ini dapat bersinergi dengan program Pemerintah dan Program CD dari RAPP. "Kami berterima kasih atas bantuan dan dukungan dari Pemkab Pelalawan dan CSR RAPP yang sebelum turun dan berintegrasi aktif di tengah masyarakat. Para mahasiswa melakukan penyusunan program bersama bertempat di BBPUT RAPP sekaligus dapat menggunakan fasilitas pemondokan di Balai Pelatihan tersebut tanpa dipungut biaya," ujarnya.

Direktur CSR RAPP, Amru Mahalli menyampaikan, dukungan yang diberikan untuk program KKN-KKP ini adalah bagian dari komitmen kepedulian terhadap masyarakat serta dunia pendidikan dan lingkungan. "Delain akomodasi dan konsumsi selama di BPPUT, nantinya kami siap mendukung program dan kegiatan para mahasiswa yang sejalan dengan program CD dan kepedulian lingkungan RAPP," ujar Amru. (*)

Editor: Harismanto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved