• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 27 Juli 2014
Tribunners

Blog Tribunners

Laut Merah ketika Sunset

Rabu, 29 September 2010 20:19 WIB
Laut merah ketika sunset (doc. pribadi)

Laut merah ketika sunset (doc. pribadi)

Pantai Hurgada sebagai bagian dari laut merah di Mesir memiliki panjang garis pantai sekitar 36 kilometer atau 22 mil. Hurgada dihuni sekitar 248.000 penduduk yang tersebar di tiga kawasan yakni di daerah tua yang dulunya menjadi pusat kota bernama down town (el dahar), Sekalla untuk pusat kota saat ini dan El Memsa yang menjadi kota modern.


Sebagaimana kota wisata yang ada di Mesir, Hurgada juga memiliki bandara internasional bernama Hurgada International airport yang memudahkan para wisatawan asing untuk mengunjunginya. Kebanyakan turis asing yang berkunjung ke Hurgada adalah berasal dari daratan eropa seperti Italia, Jerman, Ceko, Polandia dan dari kawasan Rusia sebagaimanabanyak bendera dari golongan mereka yang terpampang di depan bangunan-bangunan hotel yang tersebar.


Secara cuaca, Hurgada bisa dikatakan normal, setiap tahunnya berkisar mulai dari 30 hingga 37 dejarat celcius. Sehingga pada saat musim panas, kawasan ini menjadi salah satu tempat yang digemari untuk wisata pantainya.

Menjelang sore di Hurgada, kami mencari tempat yang tepat untuk menonton pemandangan sunset di laut merah. Nadi Ijtima’i menjadi sasaran. Tempat yang menjadi ajang berkumpulnya orang Mesir. Nadi Ijtima’i tidak seperti yang saya kira sebelumnya. Awalnya saya berfikir kalau tempat yang akan kami sambangi adalah tempat lumayan elit sebagaimana yang terpampang di foto-foto di google mengenai keindahan pantai laut merah Hurgada.


Dont worry be happy. Tidak masalah, walaupun nadi ijtima’i ternyata tempat yang sangat sederhana, saya bisa sedikit menikmati dengan keindahan suasana pantainya. Teman-teman asyik bermain bola di halaman sekitar pantai yang menjorok ke laut, halaman buatan yang terlihat dari pasirnya yang bukan pasir pantai. Asyik!, bermain bola pantai dalam balutan sore yang semakin merayap.


Saya berjalan mengelilingi nadi ijtima’i. Hari itu bertepatan dengan hari minggu. Wajar kalau banyak sekali turis lokal yang berkunjung. Agak lama menonton pemandangan orang-orang Mesir bermain air, tertnyata tebakan saya selama ini ada benarnya, bahwa mereka jarang yang ahli dalam berenang.


Kondisi pemukiman orang Mesir yang jauh dari pantai menjadikan mereka jarang yang bisa berenang. Rata-rata rumah juga berbentuk apartemen yang tidak memungkinkan untuk membuat kolam renang pribadi. Juga tidak adanya sungai di belakang rumah, yang ada hanya sungai nil, itupun jarang (untuk tidak mengeneralisir tidak ada) yang mempergunakan sebagai tempat mandi.


Aneh bagi saya. Pantai yang saya lihat di depan mata ternyata sangat dangkal, hanya setinggi lutut orang dewasa lebih sedikit. Kedangkalan pantai bahkan bisa saya lihat sepanjang hampir seratus meter hingga ke tengah laut. “Sangat tidak strategis”, begitu yang saya katakan, alasannya sederhana, bagaimana mau berenang. Anehnya lagi, orang Mesir begitu bisa bersuka cita bermain air bersama anak-anaknya ditengah kedangkalan.


Rencana saya untuk mandi menjelang sore gatot (gagal total). Di samping suasana yang tidak mendukung juga laut yang dangkal dan tanpa ombak yang mengurangi sensasi seni dalam berenang. Saya memilih menonton segala sesuatu yang ada di depan mata. Menonton orang Mesir mandi, melihat orang-orang yang sedang mancing ikan-ikan kecil, juga memelototi teman-teman yang sedang asyik menendang kulit bundar.


Di tepi pantai laut merah, tempat nadi ijtima’ termasuk tempat pojokan di kawasan elit Hurgada. Di sisi pantai masih banyak bangunan hotel yang belum selesai pembangunannya. Pemerintah Mesir jor-joran dalam hal pembangunan. Setiap jengkal wilayah di Cairo dan tempat-tempat wisata utama hampir bisa dipastikan tidak luput dari pembangunan. Wilayah yang tergolong baru untuk wisata Red Sea adalah di ‘Ain Sokhna yang sudah banyak berdiri tiang-tiang kokoh untuk penginapan hotel.

Memandang langit yang semakin menguning, sunset hadir dengan keindahannya. sayangnya, hanya beberapa menit saya bisa menikmati keindahan matahari tenggelam. Seorang petugas pantai berteriak agar menjauh dari pantai, menyuruh kami bubar.


Ada planning membakar jagung seusai shalat maghrib. Beberapa teman meminta izin kepada pengelola nadi ijtima’i. Sayang! alasan pengelola tidak masuk akal, mereka melarang kami membakar jagung di dalam area, alasannya sederhana, takut orang Mesir kepengen dan takut juga nanti mereka meminta-minta jagung bakar kepada kita. Alasan yang mengada-ngada. Tidak diizinkan akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel setelah menunaikan shalat jama’ qosor maghrib isya’ di pelataran pantai.

*******************************

Catatan kecil yang membuat saya ingin berkunjung kembali ke Hurgada.

Tepi pantai laut merah (doc. pribadi)

Tepi pantai laut merah (doc. pribadi)

fosmagati)

Bercengkrama pinggir pantai (foto : fosmagati)

Salam

Bisyri Ichwan

Editor: Iswidodo
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
52046 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas